Showing posts with label Cerpen Remaja Islami. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Remaja Islami. Show all posts

Monday, November 5, 2018

Seuntai Maaf, Segumpal Sesal (Bagian 4 - Tamat)


SEBAGAIMANA yang kuperkirakan, seperti sikap Ardi, Rifkipun menyambutku dengan sinis. Bedanya, Ardi cuma bersikap dingin dan akhirnya luluh. Sebaliknya Rifki cenderung kasar.
“Kamu …” ujarnya terkesiap melihatku. Sepersekian detik kemudian dia langsung memasang wajah garang. “Untuk apa mencariku?”
Aku menarik nafas. Aku maklum dengan sikapnya. Aku toh sudah memperkirakannya. Dan aku sudah mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
“Sekarang masih suasana Lebaran, bukankah saat yang tepat untuk menyambung tali silaturahmi?” jawabku setenang mungkin.
“Lalu?” Rifki seolah tak sabar untuk membuatku enyah dari hadapannya.
“Aku ingin minta maaf.”
“Bukankah seharusnya bukan padaku kamu minta maaf?”
“Aku tahu. Tujuanku sebenarnya juga ingin menemui Mel. Aku berutang maaf padanya. Aku menyesal telah menyakitinya. Akhir-akhir ini aku selalu dihantui rasa bersalah.”
“Akhir-akhir ini…? Setelah lebih dua tahun…? Apa tidak  terlambat? Apa kau pikir kata maaf itu tidak menjadi basi?”
“Tak ada kata terlambat untuk minta maaf, Rif!” ujarku geram. Lama-lama sikapnya membuatku gerah juga.
“Begitukah menurutmu?”
Kesabaranku habis. “Daripada bertele-tele, antarkan aku pada Mel. Kita dengar apa pendapatnya. Aku yakin, dia pasti lebih pemaaf darimu.”
“Baik, kalau itu maumu.”
Tanpa banyak bicara, Rifki merogoh saku dan mengeluarkan kunci motor. Ketika dia menstater motornya, aku tahu dia menginginkanku duduk di boncengan. Aku menurut saja.
Tak sampai sepuluh menit kami terguncang-guncang di atas motor. Kami berhenti pinggir sebuah gang kecil, di sebuah lahan tidak terlalu luas yang tampaknya sengaja dijadikan tempat parkir. Cukup banyak kendaraan yang diparkir. Ada beberapa buah mobil dan puluhan motor. Orang-orang pun tampak hilir mudik.
“Ke mana kita? Aku ingin kau mengantarku ke rumah Mel,” ujarku.
“Mel tidak tinggal di rumahnya lagi,” ujar Rifki datar. “Setahun setelah memendam luka karena pengkhianatanmu, dia pindah ke situ.”
Aku mengikuti arah telunjuk Rifki. Sebuah gapura bertuliskan Komplek Pemakaman Muslimin. Dan seketika tubuhku membatu.

*** TAMAT ***
Terima kasih, sudah membaca... Silakan baca juga cerita lainnya, ya!


Sunday, November 4, 2018

Seuntai Maaf, Segumpal Sesal (Bagian 2)


Hati kecil berbisik untuk kembali padanya
Sribu kata menggoda, sribu sesal di depan mata
Seperti menjelma waktu aku tertawa
Kala memberimu dosa
Oh…… maafkanlah……………

MEL di mataku cukup menarik dan unik. Itulah sebabnya aku memutuskan mendekatinya. Namanya Melati Sri Rezeki. Nama yang anggun sebenarnya. Tapi pemiliknya justru cenderung tomboy. Jeans dan kemeja gedobrang jadi pakaian kebesarannya. Sepatu kets dan topi adalah favoritnya. Padahal wajahnya sebenarnya lumayan manis.
Bila belum mengenal Mel, mungkin dikira dia sombong. Gayanya berjalan cuek. Ogah lirik kiri-kanan, apalagi tolah-toleh. Pandangan lurus ke depan. Atau malah menunduk menekuri jalan. Setelah lebih dekat, baru ketahuan Mel itu agak pemalu. Sikap acuhnya justru untuk menutupi sifat pemalunya. Kalau digoda, dia takkan bisa menyembunyikan pipinya yang bersemu merah dan sikapnya menjadi salah tingkah.
Tapi bila lebih dekat lagi, semua kesan itu akan berubah. Mel itu ternyata lincah dan cerewet. Bila digoda, dia bisa membalas. Skak mat! Dia periang. Suka bergurau dan iseng. Selain itu, dia juga bisa menjadi pendengar yang baik.
Namun yang membuatku paling terkesan, Mel ternyata cukup religius. Tomboy begitu, shalatnya tidak pernah bolong. Di dalam tasnya, selalu sedia mukena yang siap digunakan kapan saja. Ngajinya juga lancar. Kalau lagi serius, ngomongnya penuh nasihat bertujuan mengingatkan.
Maklum, aku kan termasuk umat beragama yang abangan. Shalat, masih mending bila bolong-bolong, ini nyaris blong. Hampir tidak pernah sejak tiga tahun lalu. Mungkin bacaan shalat pun aku sudah lupa.
Mengingat besarnya perbedaan kami, semua bilang aku beruntung bisa mendapatkan Mel. Namun modalku bukan keberuntungan semata. Usahaku mendekati dia cukup maksimal dan lama. Aku bahkan rela pindah kos agar berdekatan dengan kosnya hingga bisa hampir setiap sore main ke sana.
Walau begitu, perjuanganku toh tidak sia-sia. Mel menerimaku untuk berbagi, sebagai pendamping menjalani hari-hari. Dan kami bahagia. Perbedaan justru membuat kebersamaan kami penuh warna. Mel tetap dengan kecuekannya yang religius. Aku tetap dengan kebebasanku yang slebor.
Mel jadi semakin sering menasihatiku untuk menjalankan agama yang kuanut dengan sungguh-sungguh. Mengingatkan untuk shalat, bahkan menghadiahkan baju koko, kopiah, sarung, sajadah, dan tasbih saat aku ulang tahun. Aku menanggapinya dengan tawa dan janji tak pasti. Enteng dan ringan. Dan Mel tak pernah mengeluh karenanya.
Sampai aku mengenal Riska. Kami memiliki banyak persamaan yang membuat jurang perbedaanku dengan Mel kian melebar. Aku jadi lebih banyak bersamanya ketimbang dengan Mel. Mel sempat curiga, dan mendesakku bicara. Tapi aku mengelak. Kupikir, saatnya belum tiba.
Kuputuskan pindah kos saat merasa teman-temanku pun mulai mencurigaiku. Rupanya kepindahanku semakin memancing kecurigaan mereka. Suatu ketika, tiba-tiba Ardi datang ke kos baruku. Kebetulan saat itu aku bersama Riska.
“Bisa bicara berdua saja?” pintanya padaku dengan wajah dingin.
“Aku datang bersama Mel dan Rifki. Dan terimakasih atas suguhan kebenaran yang selama ini kau sembunyikan. Seandainya bukan teman, rasanya ingin sekali kuvermak wajahmu yang munafik itu!” ucapnya geram saat kami sudah menjauh dari Riska.
Ardi pergi dengan kemarahan tertahan. Aku sadar, segalanya sudah terbuka. Mel sudah mengetahui semuanya. Demikian juga Ardi dan Rifki, teman-teman kosku yang dulu. Tak heran bila mereka marah. Pasalnya, mereka berdua adalah orang yang paling sering kuajak menemaniku berkunjung ke kos Mel. Bahkan Rifki masih tergolong family jauh Mel.
Peristiwa itu hanya beberapa hari menggangguku, setelah itu terlupakan begitu saja. Kupikir, biarlah waktu yang akan meredakan kemarahan mereka. Demikian juga dengan Mel. Meski tahu aku telah melukainya, namun aku tak berniat menemuinya. Biarlah waktu yang akan mengubur semuanya. Bukankah waktu adalah penyembuh paling mujarab luka?
Begitulah, the show must go on… Mulanya aku memang sedikit terganggu dengan perubahan sikap teman-teman kuliahku yang bersimpati pada Mel. Tapi lama-lama mereka biasa kembali. Apalagi sebulan kemudian Mel kabarnya pindah, kembali ke kampung halamannya. Sementara Rifki juga tidak menyelesaikan kuliahnya karena harus meneruskan usaha orangtuanya. Dan aku tak pernah mendengar kabar mereka lagi. Dengan Ardi sesekali aku pernah bertemu, namun hubungan kami tak pernah sehangat sebelumnya. Kami sudah punya teman lain yang lebih cocok.

Dan waktu terus bergulir bak roda yang berputar. Ada kalanya kita berada di atas, ada kalanya berada di bawah. Sampai saatnya giliranku yang berada di bawah.
*** Bersambung ke Bagian Berikutnya, ya...! ***

Saturday, November 3, 2018

Seuntai Maaf, Segumpal Sesal (Bagian 1)


Denting piano saat jemari menari
Nada merambat pelan di kesunyian malam
Saat datang rintik hujan bersama sebuah bayang
Yang pernah terlupakan

JARUM-JARUM air menghujam bumi. Mulanya jarang-jarang, lama-lama semakin berkembang. Dari ratusan menjadi ribuan, puluhan ribu, bahkan jutaan, dan akhirnya tak terhingga. Angin dingin pun mulai berhembus. Menusuk pori. Menembus tulang.
Kurapatkan restleiting jaketku dan menjauh dari jendela. Namun pandanganku tak beranjak, tetap menekuri senja yang perlahan turun bersama guyuran hujan. Sementara gendang telingaku sayup-sayup menangkap alunan piano mengiringi nyanyian air.
Sempurna, desahku lirih. Hujan dan suara piano membuat hati yang penuh luka kian nelangsa. Hawa dingin yang menusuk membuat luka semakin perih. Suara piano yang mendayu membuatku semakin sendu.
Tak tahan, kututup jendela rapat-rapat dan beranjak menuju dipan. Namun dari balik dinding kamar, suara Iwan Fals bersenandung melantunkan penyesalan. Pasti Ryan, tetangga kosku yang memutarnya. Tapi aku turut larut di dalamnya.
Tiba-tiba selintas nama terbersit. Sekelebat bayangan muncul begitu saja. Perlahan benakku menyusun sesosok dari serpihan kenangan. Semula samar. Lama-lama semakin jelas. Membuatku sempat tertegun bingung. Mengapa sosok itu? Bukankah ratusan hari lalu telah terhapus dari benakku? Kenapa bisa mendadak menyeruak ingatanku?
Sosok itu terlukis nyata. Rambut lurus melewati bahu, agak kecoklatan. Wajah oval dengan bibir tipis dan lesung pipit yang selalu mengiringi saat bibir itu melengkungkan senyum. Aku bahkan nyaris lupa betapa manisnya senyum itu.
Aku mendesah. Mungkinkah perasaanku yang mendayu-dayu akibat luka yang mengharu-biru menyeret kembali sosok ini dari memori yang mulai terkubur waktu? Yah, mungkin saja. Karena bukan dia yang menyebabkan luka. Sebaliknya, ratusan hari yang lalu, luka yang sama pernah kugoreskan di kelembutan hatinya. Luka yang disebabkan sebuah pengkhianatan dan kebohongan.
Apakah ini yang dinamakan karma? Bumerang yang pernah kulemparkan kini berbalik melukaiku. Sungguh balasan yang setimpal! Seperih ini jugakah luka yang dirasakannya dulu? Segetir inikah rasa sakit itu?
Penyesalan tiba-tiba berdentaman di dadaku. Mengapa baru sekarang? Padahal setelah melukainya, ringan saja kuberpikir waktu akan segera menyembuhkannya. Tak ada penyesalan apalagi maaf yang terucap seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Bahkan ketika lingkungan mulai memojokkanku, dengan enteng aku melangkah pergi, melarikan diri.
Ah, seandainya ratusan hari yang lalu aku tak pernah menggoreskan luka dengan belati kebohongan dan pengkhianatan, mungkinkah sekarang aku tak merasakan perihnya luka itu? Mungkin begitu. Karena bukankah berarti sampai sekarang aku akan tetap bersamanya?
Aku meremas rambutku gusar. Berusaha mengusir berbagai pikiran yang berkecamuk di kepalaku. Tapi rasanya tetap melekat. Bayangan itu semakin nyata. Bahkan bagai proyektor yang memutar ulang kenangan ratusan hari yang lalu. Aku seperti menonton sinetron di mana aku berperan sebagai tokoh antagonisnya.
*** Bersambung ke Bagian Berikutnya, ya...! ***

Monday, October 15, 2018

Tantangan Tantri (Bagian 5 - Tamat)

“ASSALAMUALAIKUM,Rin!”
Wa alaikumsalam. Tantri, ada kabar apa?” tanyaku tak sabar.
Pasti tentang rencana kedatangan Pak Husaini ke rumahnya sore tadi. Aku penasaran mendapati nada gembira dalam suaranya.
“Alhamdulillah… Rin! Ucapkan selamat padaku!” katanya.
Aku terbengong-bengong. Apa Tantri akan bikin kejutan lagi? Apakah dia berubah pikiran? Apa dia benar-benar akan menikah dengan Pak Husaini? Bukankah dia pernah mengatakan tidak keberatan nikah muda demi melengkapi dien dan menyempurnakan ibadah?
“Apa kamu serius ingin melengkapi dien, Tri?”
“Ngawur kamu! Bukan aku, tapi mama. Pak Husaini melamar Mama. Itu berarti aku akan memiliki keluarga yang lengkap. Bukankah itu berkah terindah yang patut disyukuri?”
Allah memang punya cara sendiri untuk membahagiakan umat-Nya yang taat dan istiqomah.
                                                                                    Banjarmasin 28 Ramadhan 1427 (211006)
                                                                         *** Tamat *** 
                            Terima kasih sudah membaca... Silakan baca juga cerita yang lain, ya...! ^_^  

Sunday, October 14, 2018

Tantangan Tantri (Bagian 4)


“KAMUnggak pernah ke rumah Tantri lagi?”
Aku menghentikan langkah ketika nama Tantri kembali menjadi bahan pembicaraan sekelompok cowok.
“Abis, dia memberi tantangan yang tak mungkin kulakukan.”
“Apa? Nikah?”
“Kok kamu tahu?”
“Aku juga ditantang begitu. Katanya, dalam Islam tidak ada konsep pacaran karena dianggap sebagai perbuatan mendekati zina. Bila aku memang mencintainya, rasa cinta itu harus dibingkai dengan pernikahan. Kawin, Friend, bayangkan! SMU aja belum lulus minta kawin.”
Cowok-cowok lain tertawa. Sementara aku buru-buru meninggalkan tempat persembunyian, mencari Tantri yang biasa menghabiskan istirahat dengan Shalat Dhuha di Mushola sekolah.
“Benar kamu menantang mereka untuk nikah, Tri?” tanyaku ketika bercermin berdampingan, membetulkan letak jilbab yang berantakan.
Tantri tersenyum. “Benar, ide brilyan, kan?”
“Tapi bagaimana bila mereka menyambut tantangan itu?”
“Tidak mungkin,” ujar Tantri enteng. “Mereka kan tipe cowok-cowok ingusan yang sok dewasa. Maunya mengikat dengan pacaran, tapi enggan dibebani kewajiban dan tanggung jawab. Buktinya, setelah kutantang demikian, mereka tak ada lagi yang berani datang ke rumah.”
Aku mengangguk-angguk. “Bahkan sekarang mushola juga sepi.”
“Biarin aja. Allah juga tak perlu disembah-sembah orang munafik. Yang butuh menyembah Allah itu kan kita, bukan sebaliknya.”
Aku tersenyum. Berteman dengan Tantri memberikanku banyak pengetahuan dan pengalaman yang berharga. Tak heran bila sekarang aku juga belajar mengamalkan shalat sunat. Kemudian sedikit demi sedikit mengurangi koleksi pakaian kekecilan dan transparan.
“Assalamulaikum!” Sebuah suara berat penuh wibawa menyapa kami. “Tantri, Ririn, baru shalat Dhuha?”
Ternyata Pak Husaini --- guru agama sekaligus pembimbing kegiatan Rohis sekolah.
“Waalaikumsalam!”Kami menyahut bersamaan. “Iya, Pak.”
“Wah, saya yang ketinggalan, nih. Tadi anak-anak kelas dua baru selesai ulangan, sih!”
“Mari, Pak, kami duluan!”
Pak Husaini mengangguk. Sementara kami menuju rak sepatu.
“Sebentar, Tantri!”
Kami berbalik. Pak Husaini kembali berjalan menghampiri.
“Besok sore, Bapak boleh ke rumah, ya?”
Aku terkejut mendengar pertanyaan itu, sementara Tanri tergugu. “Bo… boleh, Pak.”
“Terimakasih!”
Kami masih sama-sama tertegun, menatap sosok Pak Husaini yang menghilang di balik pintu musholla.
“Astagfirullah, Tri… apa Pak Husaini juga mau kamu tantangin?”
Kulihat wajah Tantri memucat. Bukan rahasia lagi, Pak Husaini adalah satu-satu guru kami yang berstatus duda. Kabarnya, istri dan seorang anaknya meninggal kecelakaan saat pulang mudik lebaran lima tahun lalu.
“Bukan begitu. Tapi masak iya aku bilang nggak boleh, sih?”
Nada suara Tantri terdengar tak karuan. Pasti perasaannya lebih tidak karuan lagi. Meski tergelitik ingin menggoda, tapi aku tak tega juga. Akhirnya aku memilih diam, hanya memperhatikan Tantri yang sepanjang hari itu tampak salah tingkah.
                                                   *** Bersambung ke Bagian Berikutnya, ya...! ***

Saturday, October 13, 2018

Tantangan Tantri (Bagian 3)


“EH,jangan salah! Pake jilbab gitu justru membuat Tantri makin cantik.” Suara seorang cowok dari balik dinding.
“Iya. Semula aku juga sempat kecewa melihat Tantri menutup rambut indahnya dengan jilbab. Tapi lama-lama kuperhatikan, dia semakin cantik dan menarik dengan jilbabnya. Semakin anggun dan agung kelihatan.” Sambung yang lain.
“Jadi, kita sama-sama ke mushalla demi Tantri, nih?”
“Yah, sambil menyelam minum airlah.”
Tawa mereka bergema. Aku mengulum senyum melihat bibir Tantri langsung membentuk kerucut, cemberut.
“Ternyata niat mereka ke mushola bukan lillahitaala, melainkan lillahiTantri,” godaku.
Wajah Tantri makin masam. “Suatu saat kucari cara agar mereka kapok,” sungutnya.
                                         *** Bersambung le Bagian Berikutnya, ya...! ***

Friday, October 12, 2018

Tantangan Tantri (Bagian 2)


KEJUTAN eh bukan … gebrakan selanjutnya dari Tantri terjadi Ramadhan tahun lalu, ketika kami duduk di kelas dua.  Saat sekolah masih libur, tiba-tiba aku menerima telepon darinya.
“Rin, hari ini aku bahagia sekali,” ujarnya dengan suara serak. Telingaku menangkap ada keharuan yang menggumpal di dalamnya. “Aku tak tahan ingin berbagi kebahagiaan denganmu.”
“Ada apa, Tri?” tanyaku penasaran.
“Mama menyatakan ingin masuk Islam.”
Alhamdulillah….!Pantas saja Tantri sebahagia itu. Aku yang mendengar saja tak kalah bahagia. Meski tak pernah mengungkapkannya, aku tahu Tantri pasti sangat menginginkan ibunya juga menjadi seorang muslimah, mempercayainya Allah Yang Esa dan mengikrarkan diri sebagai umat Muhammad. Dan aku yakin, untuk mewujudkan keinginannya ini, Tantri melakukan berbagai usaha dan tak pernah putus berdoa. Pasalnya, aku pernah menemani Tantri memborong buku-buku tentang Islam. Katanya, dia berharap suatu saat ibunya tergerak untuk ikut membacanya.
Jadi, berpenampilan muslimah adalah gebrakan ketiga Tantri. Lagi-lagi momentnya berkenaan dengan Ramadhan dan Lebaran.
“Kamu yakin dengan penampilan barumu ini, Tri?” tanyaku.
Tantri tersenyum. Seperti biasa, lembut tapi mantap. “Mama yang mengenal Islam belakangan malah lebih dulu berjilbab. Masak, aku yang mengenalkan Islam padanya tidak?”
Tak ada maksud Tantri menyindir, tapi aku merasa tersentil. Karena aku yang Islam sejak lahir, sampai sekarang tak pernah tergerak untuk menutup aurat secara sempurna. Ibadahku masih terbatas yang wajib saja. Itupun masih setengah hati dan sulit khusyuk. Sementara Tantri melangkah lebih jauh di usia keislamannya yang  singkat.
“Lagipula, Rin, aku berharap dengan penampilan baruku ini, cowok-cowok akan segan mendekatiku. Pusing aku meladeni mereka, Rin. Diomongin secara baik-baik, nggak pernah mempan. Apa iya aku harus pakai kata-kata kasar?”
Aku tertawa. Kalau masalah cowok-cowok, aku mungkin lebih beruntung dari Tantri. Justru karena aku tidak secantik dan semenarik dia, makanya tak pernah pusing memikirkan cowok.
                                                *** Bersambung ke Bagian Berikutnya, ya....! ***

Tantangan Tantri (Bagian 1)


ADAkejutan di hari pertama sekolah, usai liburan panjang Ramadhan dan Lebaran. SMU Bunga Nusa heboh. Lagi-lagi Tantri, cewek blasteran Bali-Chile itu membuat hampir seluruh penghuni sekolah terperangah. Dia mengenakan busana muslimah, seragam serba panjang berikut jilbab yang berkibaran.
Jangankan orang lain, aku sebagai sahabatnya  juga kaget. Memang, lebaran lalu kami bertemu, Tantri sudah tampil dengan busana muslimah. Tapi aku tak pernah menyangka dia akan memakai jilbab seterusnya. Wajar kan di Hari Idul Fitri orang pakai jilbab. Tantri sendiri tidak pernah mengatakan rencananya.
Tapi bukan sekali ini saja Tantri membuat kejutan. Sejak mengenalnya sekitar tiga tahun lalu --- awal masuk kelas satu, Tantri memang penuh kejutan. Bahkan menurutku, apa yang dilakukannya bukan sekedar kejutan, melainkan sebuah gebrakan besar. Bagaimana tidak, di usianya yang masih limabelas, Tantri memutuskan pindah agama, dari semula memeluk Hindu menjadi seorang mualaf.
“Tantri?” Aku membelalak kaget sampai nyaris pingsan ketika Bulan Ramadhan dua tahun lalu Tantri tiba-tiba muncul di hadapanku dengan berkerudung.
“Temani aku ke Mesjid Al-Kautsar, Rin!” pintanya tanpa menghiraukan keherananku.
“Mesjid Al-Kautsar?” Aku semakin bingung.
“Ya. Aku sudah janji dengan Ustadz Baihaqi dan jamaah di sana. Malam ini aku akan mengikrarkan shahadat, menyatakan diri sebagai muslimah.”
Rasanya tak ada yang bisa lebih mengagetkanku selain berita ini. Saking kagetnya, aku sampai tak tahu harus berkata apa atau melakukan apa. Aku hanya bisa menurut ketika Tantri menggamit lenganku, mengajakku menyaksikannya bershahadat di depan jamaah Al-Kautsar.
Di hadapan jamaah pula, Tantri kemudian bercerita bagaimana dia bisa tertarik masuk Islam, sementara dia dididik oleh Ibunya yang asli orang Bali menjadi pemeluk Hindu yang taat. Katanya, sejak kecilpun dia sudah sering mempertanyakan ajaran Hindu yang menurutnya janggal dan tidak masuk akal meski sesudahnya yang dia dapat bukan jawaban melainkan marah ibunya.
Ketika SMP, Orangtuanya bercerai. Ayahnya kembali ke negara asalnya. Sementara ibunya memutuskan pindah dari Pulau Dewata yang dianggap meninggalkan banyak kenangan pahit. Karena berpengalaman bekerja di dunia pariwisata, mudah saja ibunya memperoleh pekerjaan di sebuah biro perjalanan di kota ini. Di sinilah, Tantri kemudian berinteraksi dengan penduduk sekitar yang mayoritas beragama Islam.
“Hampir setengah tahun saya mempelajari Islam dari Bunda Nurul --- istri Ustadz Baihaqi, sebelum akhirnya saya yakin untuk mengikrarkan diri sebagai pengikut Rasulullah Muhammad yang hanya mempercayai dan menyembah Tuhan Yang Esa --- Allah subhanahuataala. Dan terus terang, sampai sekarang Ibu saya sama sekali tidak mengetahui hal ini. Entah bagaimana reaksinya bila saya mengatakannya. Namun, saya siap menghadapi segala resiko dan konsekuensi demi mempertahankan keyakinan saya,” tutur Tantri. Lembut tapi tegas.
Semua terharu mendengar penuturannya. Demikian juga aku. Diam-diam aku semakin kagum padanya. Padahal, saat pertama berkenalan dan memutuskan duduk sebangku, aku sudah mengaguminya. Maklum, darah campuran melahirkan kesempurnaan bentuk lahiriahnya. Tubuhnya tinggi langsing. Kulitnya putih bersih. Hidungnya mancung. Rambutnya panjang dan indah. Seandainya hidup di ibukota, mungkin dia sudah ditawari menjadi bintang iklan atau sinetron.
Selama beberapa bulan menjadi teman sebangku, tak banyak yang kuketahui tentang Tantri selain dia anak tunggal dari seorang ibu yang menjadi single parent. Tantri memang bukan tergolong cewek yang mudah mengumbar masalah pribadi kepada sembarang orang.
Berita Tantri menjadi mualaf menyebar cepat. Semua menyambut baik kabar gembira ini. Mereka memuji keberanian Tantri mengambil keputusan. Mereka mengagumi keteguhan. Bahkan semakin banyak saja cowok yang mendekatinya dan mengaku jatuh cinta padanya.
Tapi tidak semua orang bergembira. Salah satunya adalah Ibu Tantri. Saat mengetahui putri semata wayangnya sudah mengambil putusan penting tanpa terlebih dahulu berunding, dia marah besar dan mengusir Tantri dari rumah. Aku ingat benar saat suatu malam Tantri datang ke rumah dengan membawa tas besar.
Orangtuaku dengan senang hati menerima Tantri. Aku memang sudah bercerita banyak kepada mereka tentang teman sebangkuku itu. Mereka mengaku mengagumi ketabahan dan kedewasaan Tantri. Mereka bahkan sering membandingkan Tantri denganku yang mereka bilang manja dan kekanakan.
Hanya sekitar sebulan Tantri menumpang di rumahku. Suatu hari ibunya datang menjemput. Kerinduan seorang ibu mengalahkan amarahnya. Tantri menganggap Allah menjawab doa yang setiap malam dilantunkannya. Maka ibu dan anak kembali bersama meski dengan keyakinan berbeda.
                                                    *** Bersambung ke Bagian Berikutnya, ya...! ***

Sunday, September 23, 2018

Menanti Hujan (Bagian 5 - Tamat)


BAGAIdisengat listrik ribuan volt saat melihat bendera hijau tanda berdukacita berkibar di depan musholla. Kudekati papan pengumuman yang berisi data orang yang meninggal. Seketika itu juga kesadaranku hilang melihat nama Ramadhan terpampang.
“Saat hujan kemarin, sebuah mobil slip dan menabrak Ramadhan yang berjalan di bawah guyuran hujan. Dia terlempar dan meninggal,” ujar Pak Saidi kepada pelayat dengan suara serak.
Aku tergugu. Tak bisa berkata apa-apa. Hanya airmata yang mengalir bak guyuran hujan. Terlebih saat Pak Saidi memberi secarik kertas berisi puisi Sapardi Djoko Damono. Puisi tentang kecintaian hujan kepada awan. Di pojok atas tertulis namaku sebagai awan.
 ***

MENANTIhujan di Bulan Ramadhan. Tidak seperti tahun lalu, Ramadhan kali ini kemarau sangat panjang. Sama sekali tak ada hujan. Bahkan bumi yang kerontang terbakar dan menebar kabut asap yang menyesakkan.
Aku menanti hujan. Agar guyurannya mampu membasuh kerinduanku padamu, Ramadhan. *** Tamat ***
Thank you for reading --- Terimakasih sudah membaca. Semoga bermanfaat, dan baca juga cerita lainnya, ya...!

Saturday, September 22, 2018

Menanti Hujan (Bagian 4)


“TIDAKapa, bila Non Chacha berhenti belajar mengaji pada saya,” ujar Ramadhan tenang. “Tapi saya sangat berharap, bukan berarti Non Chacha berhenti mengaji sama sekali.”
Aku menggigit bibir. Meski sudah mengambil keputusan, bukan berarti aku telah bebas dari keraguan.
“Kalau begitu, saya permisi dulu!”
Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Lidahku kelu. Aku hanya bisa mengikuti langkah Ramadhan menuju pintu keluar.
“Hujan!” cetusku ketika ribuan jarum air menghujam dari langit.
Ramadhan berpaling. Dia tersenyum.
“Non Chacha lupa, saya sangat menyukai hujan. Basahnya seolah membasuh bersih jiwa saya yang kotor. Dinginnya seolah menyejukkan jiwa saya yang gersang. Setelah diguyur hujan, saya merasa lebih bening dan tenang.”
Dan aku hanya mampu menatapnya yang berjalan santai di bawah guyuran hujan. Bagai tanpa beban.
Kemudian aku ke kebun belakang. Merenung di bawah hujan. Berusaha meresapi apa yang dirasakan Ramadhan saat diguyur hujan. Dan tiba-tiba, aku juga menyukai hujan.
***
Masih bersambung ke bagian berikutnya, ya...! Tinggal 1 bagian lagi tamat ^_^

Friday, September 21, 2018

The Dream Team (Bagian 2 - Tamat)


“BU, saya tidak bisa.”
 “Saya juga.”
Kalimat itu selalu terucap di bibir siswi kelas II-3 yang dikumpulkan Bu Fitri di lapangan basket sepulang sekolah. Mereka semua mengenakan pakaian olahraga termasuk Mel yang tampak cuek. Sesekali  dia tersenyum sinis bernada mengejek.
Bu Fitri tersenyum. “Bagaimana kalian mengatakan kalian tidak bisa bila tidak mencoba?”
“Bu, kami bukan tidak mencoba. Bukankah setiap kali berolahraga, kami hampir selalu bermain basket?” ujar Radiah.
“Kalian belum mengerahkan seluruh kemampuan kalian untuk mencoba.”
“Maksud ibu?”
Bu Fitri kembali tersenyum. Dia kemudian mendekati Dina, si kutu buku jenius berbadan gempal yang sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Begitulah kerjanya, bila tanpa memegang buku. Kebanyakan melamun.
“Din, coba kamu lempar bola ke ring dari luar garis three points!”
“Hah, apa, Bu?” Dina kaget mendengar perintah itu.
Ketika Bu Fitri mengulangi permintaannya, Dina melongo. Akhirnya, dia digamit sampai ke garis three points. Mel sampai tak bisa menahan geli melihatnya. Seumur hidup, dia tak pernah melihat Dina berhasil memasukkan bola, bahkan dari jarak dekat sekalipun, apalagi dari jauh.
“Coba lempar, Din!” Bu Fitri memberikan bola.
Dina ragu sejenak. Dia kemudian melempar bolanya. Bisa ditebak, bola sama sekali tidak mampu mencapai ring. Terlalu lemah.
“Posisimu salah, Din. Ingat, kekuatan lempar kamu letakkan pada lututmu, tekuk dan lompat selentur mungkin. Kemudian bola, jangan diletakkan di telapak tangan, ujung jarilah yang mengarahkan bola ke sasaran. Ayo, coba lagi!”
Dina kembali mencoba. Lumayan, sudah lebih jauh. Dia diminta mencoba lagi. Lemparannya sudah lebih kuat.
“Kamu tahu kelebihanmu, Din, otakmu! Hitunglah kira-kira berapa jarakmu berdiri dengan ring, perkirakan seberapa besar tenaga yang kamu perlukan.“
Dina mencoba berkonsentrasi. Dia kembali melempar. Sudah mendekati ring, namun masih meleset dari sasaran.
“Bagus, Din. Sudah ada kemajuan. Sekarang, kelebihan hitunganmu tetap harus digunakan. Ingat di sudut mana kamu berdiri agar kamu bisa memperkirakan berada derajat sudut tersebut dengan letak ring. Hitunglah, agar kamu pasti bisa memperkirakan arah lemparan yang tepat.”
Dina kembali diam, tampak berpikir. Dia berkonsentrasi. Bola dilempar dengan kekuatan sedang dan sudut sasaran sempurna. Plung, bola masuk!
Dina tertegun. Kaget karena ternyata dia berhasil menyarangkan bola. Tepuk tangan menggema. Sementara Mel terbelalak
“Bagus, Din. Itulah kamu yang sebenarnya. Kamu punya kemampuan. Selama ini kamu hanya belum sepenuhnya menggunakan kemampuan itu untuk bermain basket.” Bu Fitri kembali menghadapi murid-muridnya. “Kalian lihat? Allah itu Maha Adil. Dia menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tinggal bagaimana kita mengasah kelebihan dan menutupi kekurangan.”
Bu Fitri mendekat.
“Dina punya kelebihan, otaknya cepat dalam analisa perhitungan. Itulah yang digunakannya saat melempar bola jarak jauh. Sementara Sarah punya tubuh yang tergolong tinggi dibanding yang lain, itu juga merupakan kelebihan. Kamu bisa mengasahnya, karena tubuh tinggi bermanfaat untuk melakukan rebound, baik saat menyerang ataupun bertahan. Kemudian Jie, karena kamu rajin latihan bela diri, tubuhmu lentur. Sangat bermanfaat untuk lay up. Selama bola diarahkan ke garis bujursangkar, lemparanmu pasti takkan meleset. Adel, kamu tahu kelebihanmu? Kamu dermawan yang suka berbagi, sehingga bagus dalam distribusi. Yuniar, kamu paling tenang, bisa menenangkan teman-teman setim. Indri dan Radiah, back-uppaling pas untuk semua anggota tim.”
Mel tercengang. Untuk kesekian kalinya, dia merasa kalah telak. Untuk kesekian kalinya, dia merasa kesombongannya luruh di bawah sebuah kemampuan yang dibungkus kebersahajaan. 
*** Tamat ***
Thank you for reading... Terimakasih sudah membaca... ^_^ 
Semoga bermanfaat... Dan silakan baca juga cerita yang lainnya, ya...!

Menanti Hujan (Bagian 3)


SEJAKitu, kami belajar mengaji. Bukan hanya aku dan Siska, tapi juga anggota genk kami yang lain; Risma, Nuri dan Lidya. Tentu saja tujuan kami tidak benar-benar belajar mengaji, melainkan hanya untuk berdekatan dengan Ramadhan dan berusaha menggodanya.
Kadang kami mengaji di musholla. Setiap datang, kami pasti bawa banyak makanan. Maksudnya, agar kami lebih banyak makan-makannya dari pada belajar ngajinya.
Tapi Ramadhan tidak tergoda. Dia sama sekali tidak mencicipi makanan bawaan kami. Bahkan dengan sopan dia minta ijin untuk memberikannya kepada murid-muridnya yang masih bocah. Tentu saja kami tak mungkin menolak permintaan itu.
Kemudian kami ganti strategi dengan meminta Ramadhan datang ke rumahku untuk mengajari mengaji. Tidak lagi di musholla. Kebetulan orangtuaku memang jarang berada di rumah. Ramadhan menurut.
Kami menggodanya dengan berbagai hadiah. Tapi cowok satu itu memang tipe manusia langka. Hadiah-hadiah mahal seperti mini CD Player, arloji dan sepatu ditolaknya. Dia hanya menerima pemberian sarung dan baju koko. Namun lagi-lagi bukan untuk dirinya. Katanya, ada teman ayahnya --- sesama kompleks yang lebih memerlukan.
“Saya masih punya pakaian untuk sholat, walaupun tidak baru lagi. Sementara Pak Kardi, baju dan sarungnya sudah bolong-bolong.”
Kami juga kerap mengajaknya jalan-jalan. Ramadhan menerima ajakan bila tujuannya ke toko buku atau perpustakaan. Di sana dia sangat betah berlama-lama sambil numpang baca. Namun bila tujuannya selain itu, dengan sopan dia menolak.
Sedikit demi sedikit, teman-temanku mulai bosan. Ibarat mainan, Ramadhan sudah tak menarik minat mereka lagi.
“Dasar marbot! Cakep-cakep, tetap aja kuno!” kata Lidya.
“Benar. Bahkan dijadikan gandengan pun bakal memalukan. Apalagi pacaran beneran!” timpal Nuri.
Bahkan Siska yang semula paling bersemangat pun akhirnya kehilangan selera. Hanya aku yang bertahan. Tetap meluangkan waktu untuk belajar mengaji padanya. Entah mengapa, berdekatan dengan Ramadhan memberikan ketenangan pada jiwaku yang seringkali dilanda gundah. Mendengarnya membaca Quran bagai memercikan air kesejukan bagi rohaniku yang selama ini kerontang.
“Kamu mencintai marbot itu, Cha?” todong Risma.
Aku gelagapan. Tak tahu harus menjawab apa.
“Kamu gila, Cha. Lucky mau kamu buang ke mana?”
Aku semakin kebingungan.
“Hati-hati, Cha! Kamu tahu sifat Lucky, kan?” Siska mengingatkan.
Aku mengangguk lemah. Tentu saja aku hapal sifat Lucky. Karena sudah lebih dua tahun kami pacaran. Dia anak tunggal pengacara ternama di kota ini. Sebagai anak tunggal, dia egois. Maunya menang sendiri. Dan terhadap cewek yang dicintainya, dia cenderung posesif. Kalau dia tahu aku dekat dengan cowok lain, bisa bahaya. Untukku, khususnya untuk cowok lain itu.
Aku tercenung.
“Kami hanya mengingatkan, Cha,” tutur Nuri. “Untuk sekarang, rahasiamu aman. Kamu bisa mempercayai kami. Tapi apa bisa selamanya kita menutupi kenyataan ini dari Lucky?”
Mereka benar. Aku harus memikirkan hal ini. Untuk kebaikanku. Dan demi kebaikan Ramadhan.
***
Bersambung ke bagian berikutnya lagi, ya... ^_^

Kepsek Banjarbaru Antusias Daftar Sekolah Penggerak

Para kepala sekolah di Banjarbaru antusias mendaftar Program Sekolah Penggerak (PSP). Antusiasme ini terlihat di Aula Pangeran Antasari, Lem...