“BU, saya tidak bisa.”
“Saya juga.”
Kalimat itu selalu terucap di bibir siswi kelas II-3 yang dikumpulkan Bu Fitri di lapangan basket sepulang sekolah. Mereka semua mengenakan pakaian olahraga termasuk Mel yang tampak cuek. Sesekali dia tersenyum sinis bernada mengejek.
Bu Fitri tersenyum. “Bagaimana kalian mengatakan kalian tidak bisa bila tidak mencoba?”
“Bu, kami bukan tidak mencoba. Bukankah setiap kali berolahraga, kami hampir selalu bermain basket?” ujar Radiah.
“Kalian belum mengerahkan seluruh kemampuan kalian untuk mencoba.”
“Maksud ibu?”
Bu Fitri kembali tersenyum. Dia kemudian mendekati Dina, si kutu buku jenius berbadan gempal yang sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Begitulah kerjanya, bila tanpa memegang buku. Kebanyakan melamun.
“Din, coba kamu lempar bola ke ring dari luar garis three points!”
“Hah, apa, Bu?” Dina kaget mendengar perintah itu.
Ketika Bu Fitri mengulangi permintaannya, Dina melongo. Akhirnya, dia digamit sampai ke garis three points. Mel sampai tak bisa menahan geli melihatnya. Seumur hidup, dia tak pernah melihat Dina berhasil memasukkan bola, bahkan dari jarak dekat sekalipun, apalagi dari jauh.
“Coba lempar, Din!” Bu Fitri memberikan bola.
Dina ragu sejenak. Dia kemudian melempar bolanya. Bisa ditebak, bola sama sekali tidak mampu mencapai ring. Terlalu lemah.
“Posisimu salah, Din. Ingat, kekuatan lempar kamu letakkan pada lututmu, tekuk dan lompat selentur mungkin. Kemudian bola, jangan diletakkan di telapak tangan, ujung jarilah yang mengarahkan bola ke sasaran. Ayo, coba lagi!”
Dina kembali mencoba. Lumayan, sudah lebih jauh. Dia diminta mencoba lagi. Lemparannya sudah lebih kuat.
“Kamu tahu kelebihanmu, Din, otakmu! Hitunglah kira-kira berapa jarakmu berdiri dengan ring, perkirakan seberapa besar tenaga yang kamu perlukan.“
Dina mencoba berkonsentrasi. Dia kembali melempar. Sudah mendekati ring, namun masih meleset dari sasaran.
“Bagus, Din. Sudah ada kemajuan. Sekarang, kelebihan hitunganmu tetap harus digunakan. Ingat di sudut mana kamu berdiri agar kamu bisa memperkirakan berada derajat sudut tersebut dengan letak ring. Hitunglah, agar kamu pasti bisa memperkirakan arah lemparan yang tepat.”
Dina kembali diam, tampak berpikir. Dia berkonsentrasi. Bola dilempar dengan kekuatan sedang dan sudut sasaran sempurna. Plung, bola masuk!
Dina tertegun. Kaget karena ternyata dia berhasil menyarangkan bola. Tepuk tangan menggema. Sementara Mel terbelalak
“Bagus, Din. Itulah kamu yang sebenarnya. Kamu punya kemampuan. Selama ini kamu hanya belum sepenuhnya menggunakan kemampuan itu untuk bermain basket.” Bu Fitri kembali menghadapi murid-muridnya. “Kalian lihat? Allah itu Maha Adil. Dia menciptakan manusia dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tinggal bagaimana kita mengasah kelebihan dan menutupi kekurangan.”
Bu Fitri mendekat.
“Dina punya kelebihan, otaknya cepat dalam analisa perhitungan. Itulah yang digunakannya saat melempar bola jarak jauh. Sementara Sarah punya tubuh yang tergolong tinggi dibanding yang lain, itu juga merupakan kelebihan. Kamu bisa mengasahnya, karena tubuh tinggi bermanfaat untuk melakukan rebound, baik saat menyerang ataupun bertahan. Kemudian Jie, karena kamu rajin latihan bela diri, tubuhmu lentur. Sangat bermanfaat untuk lay up. Selama bola diarahkan ke garis bujursangkar, lemparanmu pasti takkan meleset. Adel, kamu tahu kelebihanmu? Kamu dermawan yang suka berbagi, sehingga bagus dalam distribusi. Yuniar, kamu paling tenang, bisa menenangkan teman-teman setim. Indri dan Radiah, back-uppaling pas untuk semua anggota tim.”
Mel tercengang. Untuk kesekian kalinya, dia merasa kalah telak. Untuk kesekian kalinya, dia merasa kesombongannya luruh di bawah sebuah kemampuan yang dibungkus kebersahajaan.
*** Tamat ***
Thank you for reading... Terimakasih sudah membaca... ^_^
Semoga bermanfaat... Dan silakan baca juga cerita yang lainnya, ya...!

No comments:
Post a Comment