Showing posts with label Cerpen Remaja Romantis. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Remaja Romantis. Show all posts

Saturday, November 10, 2018

Pilihan Karin (Bagian 4 - Tamat)


KARIN kembali ke posisinya sebagai ‘guard’. Menggantikan Amara yang tampaknya kewalahan menghadapi gempuran lawan. Mimi melakukan lemparan samping, ragu untuk menyerahkan bola pada Karin. Dia masih trauma karena kesalahan fatal Karin. Tapi senyum Karin melumerkan keraguannya.
Karin menggiring bola. Gayanya mantap, tenang tapi tetap waspada. Itulah ciri khasnya. Matanya jelalatan mencari teman yang berdiri bebas. Tapi lawan yang bertahan menggunakan system ‘satu-satu’. Semua temannya dikawal.
Karin bergerak lincah. Mempermainkan bola. Lalu dengan satu gerakan, dia melompat dan menembak.
Lawan tersentak. Mereka tidak mengira Karin berani berspekulasi, menshot pada jarak yang sulit dijangkau. Tapi, masuk! Tepuk tangan bergemuruh. Tiga angka untuk Karin.
Lawan menyerang. Tapi berhasil dihadang Ratna. Bola pindah ke tangan Susi, dan kembali pada Karin. Lawan maju menghalangi. Karin bergerak lincah. Lawan kewalahan mengikutinya.
Enny berdiri bebas. Tangan Karin bergerak ke arahnya. Lawan yang menghalangi Karin mundur. Seketika itu juga arah gerakan Karin berubah. Bola malah meluncur ke arah ring. Dan lagi, masuk!
Pertahanan lawan mulai berantakan. Karin dijaga ketat. Tapi kelincahannya tidak berkurang. Setiap tidak bisa bergerak lagi, bola dioper ke teman yang bebas. Dengan leluasa mereka memanfaatkan. Angka terus melaju.
Sambutan penonton kembali meriah. Suporter sekolah Karin yang tadi bungkam, kembali menggemakan gendering perang.
Suasana jadi tegang. Angka susul-menyusul.
***
TAWA dan pekik kemenangan itu mendadak senyap. Serentak mereka menghentikan langkah. Di lapangan parker GOR, Hans menghadang.
Semua menunggu dengan tegang. Karin merapat badannya pada Dicky. Dicky menepuk-nepuk bahu Karin, membagi ketenangan. Wajah cewek itu sedikit pucat.
Hans menghampiri mereka.
“Selamat, Karin! Kamu memang hebat! Aku kagum,” hans mengulurkan tangannya.
Karin terpana. Dia sampai lupa menyambut tangan Hans yang menggantung. Kalau saja Hans tidak meraih tangan Karin, tangan mereka tidak akan bertautan.
“Selamat juga, Dick!” Hans beralih ke Dicky. Dicky bergegas menyambut tangan itu. “Kamu cowok yang beruntung!”
Dicky tersenyum. Semua menghembuskan napas lega.
“Sekarang kita makan-makan, aku yang traktir!”
Ajakan Hans langsung disambut meriah. Dalam keremangan malam yang hanya bertaburan bintang-bintang, Karin dan Dicky saling pandang dan tersenyum. Dicky melihat, bintang di mata Karin jauh lebih cemerlang. Bintang di mata bintang lapangan. ***
Dimuat di Anita Cemerlang Vol. 419 tgl. 8-18 Oktober 1992

Terima kasih sudah membaca... ! Silakan baca juga cerita yang lain, ya...!

Friday, November 9, 2018

Pilihan Karin (Bagian 3)


SETENGAHmati Karin berusaha memusatkan konsentrasinya ke lapangan. Tapi selalu gagal. Pikirannya kembali terbelah, saat merancang serangan. Wajah Dicky yang sendu dengan mata luka berlumur kecewa serasa ada di mana-mana. Di bola, di ring, di tengah lapangan, di wajah-wajah penonton, lawan, panitia, bahwan wasit juga.

Karin menghentakkan kakinya, kesal. Entah untuk ke berapa kalinya dia lengah. Bola yang dia giring berhasil dicuri, lalu menambah angka lawan. Teman-teman Karin kelihatan kecewa.
Tuhan, mengapa cobaan datang saat aku mesti menyatukan pikiran? Keluh Karin sedih. Di saat dia memanggul tanggung jawab yang cukup berat, membawa nama baik sekolah dalam pertandingan basket putri se-SMA. Dan lawan mereka tidak tanggung-tanggung, sang juara bertahan.
Mungkin salahku juga, keluh Karin. Aku mengulangi kebodohan kedua. Tadinya Karin masih berharap, Dicky masih mau menjemputnya. Mengajaknya ke GOR ini sama-sama. Lama dia menunggu, tapi sia-sia.
Lagi-lagi yang muncul justru Hans. Cowok itu menawarkan jasa untuk mengantarnya. Karin tak punya pilihan lain. Waktu pertandingan sudah mepet. Naik kendaraan umum, tidak bakalan keburu.
Seharusnya aku menolak ajakan Hans, Karin kembali membatin. Apa gunanya aku datang bila menjadi sebab kekalahan? Memalukan!
Sampai sekarang Karin tidak bisa menepis wajah Dicky ketika cowok itu melihatnya datang bersama Hans. Ada luka menganganga yang merambah lebar di matanya. Mata yang sebening telaga, hitam kelam tapi menyejukkan itu bagai kehilangan makna. Selapis kabut tebal menutupinya.
Karin mungkin masih bisa menghindari tatapan teman-temannya dengan bersikap cuek. Tapi tatapan Dicky yang menyimpan kecewa… Ah! Batin Karin ikut menangis melihatnya.
Maafkan aku, Dick, bisik hati Karin. Aku ti…
“Karin, awas!”
Pekikan Susi dan Mimi bergema. Demikian juga jeritan penonton. Karin tersadar dari lamunannya.
Bola meluncur deras ke arah Karin. Sejenak Karin gelagapan. Lalu melompat, menghadang bola agar tidak jatuh ke tangan lawan. Tapi posisi tangannya masih belum siap ketika bola membentur, keras!
Karin mengaduh. Bola lepas begitu saja, sedang Karin merasa dua jarinya hilang entah ke mana. Karin meringis. Antara jempol telunjuk kanannya bengkak memar, berwarna kebiruan.
Sementara lawan kembali meraih angka. Ketika itu juga, dilihatnya wasit di pinggir lapangan mengacungkan papan bertulis nomer punggungnya. Karin ditarik keluar. Diganti Amara.
“Kamu istirahat dulu, Karin!” kata Mas Yo saat Karin sudah berada di hadapannya.
“Tapi, Mas, aku tidak sakit. Aku…”
“Jangan membantah!”
Karin terpana. Dicky! Cowok itu menghampirinya, kemudian mengambil tangan kanannya.
“Bengkak begini, kamu bilang tidak sakit.”
Karin diam. Dia juga menurut saja ketika Dicky membawanya sedikit menjauh dari tempat Mas Yo dan pemain cadangan. Dia mengambil obat urut dan mulai mengurut tangan Karin dengan hati-hati.
“Kamu bisa menyembunyikannya dari orang lain, tapi tidak kepadaku.”
Karin masih diam. Dia meringis. Rasa ngilu terasa sampai ujung siku.
“Kalau aku mengurutnya terlalu keras, bilang, ya!”
Diam-diam Karin memperhatikan wajah Dicky. Sekali-sekali wajah itu juga ikut berkerut dan meringis. Seakan dia sendiri pun merasakan sakit.
Rasa haru menyergap batin Karin. Lihat, betapa hati-hatinya Dicky! Dia betul-betul takut menyakiti Karin. Sedang aku? Aku ingin menjaga perasaan Hans, tapi perasaan Dicky tak pernah kupedulikan. Padahal cowok itu begitu tulus.
Karin tak kuasa membendung air yang menyeruak di kelopak matanya.
Dicky mendongak ketika setitik air itu jatuh.
“Apakah aku menyakitimu, Karin? Apa kamu merasa sakit? Pijatanku terlalu keras, ya?”
Karin menggeleng cepat. “Bukan, Dick! Bukan itu.”
Dicky menarik napas panjang. Dipandanginya Karin. Hatinya terenyuh. Dia tahu, Karin pun sama tersiksanya. Permainan buruk Karin adalah karena dia juga. Mata bintang yang biasanya cemerlang itu kini redup.
“Maafkan aku, Karin! Mungkin aku salah, memaksamu bersikap tegas. Padahal itu bukan si…”
“Tidak. Kamu nggak salah, Dick. Justru aku yang menyakitimu. Aku…”
“Karin!”
Suara Karin yang tergagap terpotong. Hans berdiri di antara mereka.
“Tangan kamu kenapa, Karin? Kamu diapain?” Hans merebut tangan kanan Karin yang masih dalam genggaman Dicky.
“Hans, kamu jangan sekasar itu!” Karin balas menyentak tangannya. “Dicky sedang mengobati tanganku yang terkilir.”
Hans terpana. Wajahnya langsung memerah. Dicky juga…
“Maaf, bila aku….” Karin jadi serba salah sendiri. Dia tahu telah berkata dengan nada yang tidak seperti biasanya. “Aku sudah kehabisan akal menghadapimu, Hans. Kamu nggak ngerti-ngerti juga. Aku tahu, kamu suka aku. Tapi kamupun tahu aku nggak bisa menerimamu. Aku sudah punya Dicky. Kehadiranmu merenggangkan hubungan kami, Hans. Kuminta dengan sangat, Hans, jangan ganggu kami lagi!”
Wajah Hans makin membara. Tidak sampai sedetik, dia sudah membalik. Melangkah lebar dan menghilang di balik kerumunan penonton.
Karin menarik napas lega. Beban yang menghimpitnya lenyap tiada bekas. Sedang Dicky memandangnya takjub.
“Aku hampir nggak percaya, Karin,” gumam Dicky.
“Lalu yang kamu kira selama ini apa?” rajuk Karin cemberut.
“Kukira kamu benar-benar sudah bosan naik motor bututku.”
Karin membelalak. Dicky tergelak. Dengan cepat, Karin mencubit lengan Dicky. Cowok itu mengaduh. Kulit lengannya merah.
“Ampun, Karin! Apa tanganmu sudah sembuh?”
Karin ikut tertegun. Jarinya digerak-gerakkan. Memang sudah tidak terasa sakit. Bengkaknya pun mengempis. Hanya warnanya masih biru.
“Kamu bisa main lagi, dong!”
Karin tersenyum. Lalu mengangguk mantap.
*** Bersambung ke Bagian Berikutnya, ya...! ***

Thursday, November 8, 2018

Pilihan Karin (Bagian 2)


PERSOALAN berawal dari kepindahan Hans ke sekolah Karin. Hans anak seorang pengusaha ibukota. Kabarnya, ortunya sudah nggak sanggup lagi mengatasi kenakalannya, sehingga mengirimnya ke kota ini, untuk diurus neneknya. Harapan mereka, Hans bisa jadi lebih baik, karena berpisah dari teman-temannya yang rata-rata anak orang kaya yang lebih suka hura-hura.
Sejak mengenal Karin, Hans sudah menunjukkan tanda-tanda dia menyukai cewek itu. Memang siapa yang tidak suka sekaligus kagum pada Karin? Udah kece, banyak punya kelebihan, ramah lagi. Siapa sangka, cewek yang bisa garang di lapangan itu ternyata berperangai demikian lembutnya?
Nggak heran, bila Karin banyak yang suka. Baik cewek maupun cowok. Temannya ada di mana-mana. Tidak sedikit yang coba mendekati. Tapi satu per satu mereka mundur, karena tahu Karin sudah punya Dicky.
Mereka pasangan serasi. Dicky, walau nggak cakep, tapi simpatik. Sama-sama jago basket. Bahkan Dicky sudah sering menggondol gelar pemain terbaik dalam berbagai pertandingan. Cinta mereka pun bersemi di lapangan. Karena Dicky menjadi asisten pelatih regu basket putri sekolah, membantu Mas Yo.
Namun Hans lain. Tahu Karin sudah punya Dicky, dia nekat aja. Terus mencoba menempel Karin. Dengan berbagai daya dan upaya. Dia nggak peduli dengan semua orang, termasuk Dicky sekalipun. Terkadang sikapnya keterlaluan. Seakan ingin menunjukkan pada semua orang, dialah yang memiliki Karin, bukan orang lain.
Karin jengah juga menghadapi Hans. Kemesraan dan perhatian yang dia berikan terlalu berlebihan. Pujian dan rayuannya melangit, membuat Karin jadi malu sendiri.
Walau begitu, Karin tetap berusaha melayani Hans sebagai teman. Mau menemani Hans ngobrol. Sesekali mau ditraktir. Kalau Hans ke rumah, diterima dengan baik. Kalau diajak keluar saja dia selalu menolak. Dengan alasan yang masuk akal sehingga tidak terasa menyakitkan.
Karin ingin Hans mengerti sendiri. Seperti cowok-cowok yang berusaha mendekatinya sebelum ini. Dia ingin menyadarkan Hans dengan caranya sendiri. Tanpa menyakiti, apalagi melukai.
Dicky pun tampaknya mengerti. Dia percaya sepenuhnya, Karin bisa mengatasi seperti yang telah lalu. Dia tidak mau mencampuri.
Justru teman-teman mereka yang tidak bisa menerima. Mereka menganggap Karin berkhianat. Dan mereka tidak rela. Mereka lebih menyukai Dicky yang simpatik dan sederhana, ketimbang Hans yang sombong dan suka pamer kekayaan.
Maka bermunculanlah gosip-gosip dan isyu-isyu yang tak tahu dari mana asal mulanya. Karin dianggap terbius kekayaan Hans dan meninggalkan Dicky.
Yang terusik dengan gosip murahan itu bukannya Dicky, tapi teman-teman dekat Karin.
“Kamu mestinya bersikap lebih tegas pada Hans,” saran Amara yang tampaknya paling prihatin. “Kalo nggak, anak itu akan ngelunjak, dan isyu makin begolak.”
Karin cuma tersenyum.
“Aku tak ingin ada hati yang terluka dalam persoalan ini, Mara,” jawabnya tenang.
“Tak ada yang terluka katamu? Bagaimana dengan perasaan Dicky? Apakah kamu yakin dia tidak terluka mendengar kekasihnya dijadikan bahan pergunjingan?”
“Dicky tidak sesempit itu pikirannya. Dia mengerti. Dia tahu, aku akan menyadarkan Hans dengan caraku, pelan-pelan dan hati-hati. Agar tak ada dendam di kemudian hari. Dan kami masih tetap berhubungan sebagai teman.”
Amara tertawa sumbang. Nadanya penuh ejekan dan rasa sangsi.
“Buat cowok-cowok lain, mungkin cara itu bisa berhasil, tapi pada Hans tidak. Anak itu jangan dikasih hati, malah minta jantung. Melihat sikapmu, dia kira kamu malah memberi peluang.”
“Kita lihat saja nanti, Mara!”
Amara mengangkat bahu, putus asa. “Asal kamu tahu aja, Karin, cowok itu punya harga diri tinggi. Sekarang mungkin Dicky masih bisa sabar. Tapi kesabaran toh ada batasnya. Aku takut ketidaktegasnmu akan mengobarkan perang dunia.”
Dulu mungkin Karin tidak menanggapi kata-kata Amara. Tapi sekarang, dia membenarkannya. Kesabaran Dicky sampai pada batasnya, karena Hans telah menyinggung harga dirinya.
Siang itu, ketika pulang sekolah, Karin menunggu dan membantu Dicky yang sedang memperbaiki motornya yang tiba-tiba ngadat. Hans melintasi mereka dengan Honda Civic-nya.
“Karin, kuantar, yuk!” ajak Hans dar jendela mobilnya. Sama sekali dia tidak peduli pada Dicky. Melirik pun tidak.
Karin menggeleng sambil tersenyum.
“Terima kasih. Aku pulang dengan Dicky.”
“Ah, sampai kapan kamu menunggu? Jangan-jangan malah sampai nanti malam.” Hans melirik sejenak. “Lagian apa enaknya naik motor butut begitu? Nggak takut kulitmu rusak kena debu dan sinar matahari?”
Ejekan itu sangat menyakitkan telinga. Apalagi matahari yang memang bersinar terik makin memacu bergolaknya darah Dicky, naik sampai ke kepala. Mukanya merah. Giginya gemerutuk. Matanya bersinar-sinar.
Dicky yang semua jongkok, langsung berdiri. Melihat gelagat itu, Karin langsung menggenggam tangan cowok itu erat-erat. Tangannya yang kotor belepotan oli itu, jari-jarinya sudah terkepal.
“Tidak, Hans! Aku sudah biasa. Silakan kamu duluan!” sergah Karin cepat.
“Oke! Tapi kalau kamu perlu, telepon saja ke rumahku, ya! Bye…!”
Honda Civic Hans melaju, meninggalkan gumpalan asap bercampur debu. Karin menarik napas lega. Tapi cuma sedetik. Dia kembali tersekat ketika kepalan tangan Dicky yang sudah dilepaskannya menghantam sadel motor.
Wajah Dicky masih membara. Karin segera memegang bahunya.
“Sabar, Dick! Perkelahian tidak akan menyelesaikan masalah,” ujar Karin lembut.
“Aku masih bisa sabar kalau dia tidak keterlaluan begitu, Karin. Coba, apa selama ini aku kurang sabar? Padahal aku sudah hampir gila mendengar cerita-cerita yang menyulut telinga. Cerita tentang kamu, Karin!”
“Itu tak perlu kamu tanggapi!”
“Tidak perlu bagaimana? Orang-orang membicarakan kamu di depanku. Mereka bilang, kamu materialis. Kamu pengkhianat. Cewek murahan. Apa aku harus diam saja? Aku tidak rela. Aku ingin membela. Tapi bagaimana mungkin, kalau sikapmu sendiri seolah membenarkan semuanya?”
Karin diam.
Dicky membersihkan tangannya, membereskan perkakasnya, lalu duduk di atas sadl. Karin naik ke boncengan tanpa banyak bicara.
Dicky menstater, lalu menarik gas kencang-kencang. Melampiaskan amarahnya yang tersisa.
Karin diam. Dia tahu, Dicky lagi emosi. Saat ini, diam lebih baik. Banyak bicara hanya akan menambah bahan bakar dalam bara. Dia hanya mempererat pelukannya di pinggang Dicky.
Sesampai di depan pagar rumah Karin, keduanya masih saling membisu. Karin turun.
“Dick, kamu pasti ngerti aku,” kata Karin hati-hati. “Aku nggak mau Hans tersinggung, apalagi sakit hati. Aku nggak bisa bersikap keras. Itu bukan sifatku. Kamu pasti tahu itu.”
Dicky memandang Karin, lekat. Perlahan bara di matanya meredup. Kabut keresahan yang melingkari mata bintang Karin memadamkannya.
Dicky kenal benar siapa ceweknya ini. Karin cewek yang berhati lembut. Sangat kontras nila dibandingkan kegarangannya di lapangan.Bagi Karin, mengatakan ‘tidak’ adalah paling sulit. Dia paling tidak sampai hati membuat orang lain kecewa. Dia akan selalu tersenyum, walau di dadanya menyimpan bara.
“Bersikap tegas, tidak berarti kasar, Karin.”
Dicky kembali menarik gasnya. Motor itu melompat. Sebentar saja sudah menghilang di balik tikungan, meninggalkan Karin yang masih termangu sendiri.

*** Bersambung ke Bagian Berikutnya, ya...! ***

Pilihan Karin (Bagian 1)


SEMUA yang sedang pemanasan di tengah lapangan basket menoleh, ketika sebuah Honda civic hijau lumut mulus memasuki parkiran di samping lapangan. Karin yang berada di dalam merasakan pandangan mereka menghujam. Bagai ribuan jarum merajam seluruh tubuhnya.
Terlebih ketika Hans membukakan pintu mobil, ala pangeran mempersilakan putri turun dari kereta kencana. Dia juga membawakan tas jinjingnya yang cuma berisi handuk kecil dan Aqua.
“Hans, aku ke mereka dulu, ya!” bisik Karin setengah jengah.
“Ya. Aku ke sana.” Hans menunjuk pojok lapangan.
Karin mengangguk. Dia terus, sementara Hans berbelok.
Teman-temannya pura-pura sibuk lagi, ketika tahu Karin menuju ke arah mereka. Enny asyik mendriblebola. Ratna menghalang-halangi, berusaha merebut bola. Susi menggoyang-goyangkan tubuh sambil menghitung perlahan. Mimi mengikuti gerakannya. Mereka tidak mempedulikan kedatangannya.
Karin mendesah. Ada yang mengganjal di dadanya. Sakit! Membuat sesak napasnya. Dia bukannya tidak tahu apa yang membuat teman-temannya bersikap demikian. Kedatangannya bersama Hans.
“Hai, Karin!” Amara muncul dari balik ring basket. “Kok, cepat banget datangnya? Ketemu Dicky di jalan, ya?”
“Dicky?” Kening Karin berkerut.
“Iya. Wah, kasihan, lho! Tampaknya dia lagi suntuk berat. Kamu apain sih, Rin?”
Karin menggeleng galau. Dia masih belum mengerti.
“Tadi ketika baru datang, kulihat Dicky sendirian di lapangan ini. Ngubek-ngubek bola basket. Dia nggak pulang ke rumah sejak bubaran sekolah, ya? Seragamnya sampai basah kuyup mandi keringat. Tasnya juga dibiarkan saja tergeletak di tengah lapangan.”
Amara bercerita tanpa menghiraukan wajah Karin yang berubah nada.
“Ketika aku datang, dia kaget. Tanya jam berapa. Kujawab, jam tiga lebih. Dia langsung cabut. Katanya, mau jemput kamu.”
“Aku?” Karin menunjukkan dadanya sendiri. “Dicky menjemputku?”
“Lha, iya!” Ganti Amara yang heran. “Emang nggak ketemu? Kamu ke sini sama siapa?”
“Itu, tuh!”
Bukan Karin yang menjawab, tapi Ratna. Matanya melirik ke sudut lapangan di mana Hans sedang duduk menunggu. Amara ikut melirik.
“Oh!”
Hanya itu yang keluar dari bibir Amara. Tatapannya berubah, senada dengan suaranya. Lalu dia pun tidak mengacuhkan Karin lagi. Bergabung dengan temannya yang lain.
Sekali lagi Karin mendesah. Dadanya tambah sesak.
“Aku ganti dulu, ya!” pamit Karin kemudian.
“Ya!”
Alangkah dipaksakannya jawaban itu. Karin bergegas pergi dari hadapan mereka, menghampiri Hans yang duduk di pojokan. Tapi ia masih merasakan tatapan dingin teman-temannya terus mengikuti langkahnya.
Karin tidak bisa menyalahkan mereka. Karin tahu, mereka cuma memprotesnya. Mereka lakukan itu karena membela Dicky. Mereka mengira Karin telah berpaling dari Dicky.
Dicky? Jadi cowok itu masih mau menjemputnya? Tiba-tiba saja Karin menyesal, mengapa memenuhi ajakan Hans yang lebih dulu menjemputnya. Kalau saja tidak, tentu saat ini dia berangkat dengan Dicky. Lalu perlahan-lahan, berusaha menjernihkan persoalan.
Karin yakin pasti bisa. Dicky cowok yang baik. Dia lembut dan penuh pengertian. Tadi siang dia hanya emosi. Dan biasanya cuma sebentar. Emosi itu akan dia tumpahkan di lapangan basket. Setelah itu akan reda dengan sendirinya. Buktinya, Dicky sudah mau kembali menjemputnya.
Tapi aku bodoh, maki Karin dalam hati. Malah pergi dengan Hans. Bagaimana nggak tambah berantakan?
Semua ini gara-gara Hans! Karin melirik cowok itu geram. Tapi Hans yang merasa dilirik malah memamerkan senyum. Mau nggak mau, Karin balas tersenyum. Walau terpaksa.
Karin membuka celana jeans-nya di kamar kecil. Kemudian keluar lagi dengan mengenakan celana pendek sport.
“Latihan yang bagus!” kata Hans sebelum Karin kembali melangkah ke tengah lapangan.
Lagi Karin tersenyum. Walau dalam hati gondok setengah mati. Dia kaget, ketika bergabung dengan teman-temannya. Di sana ada Dicky yang sudah mengenakan pakaian olahraganya.
Dicky menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Karin menggigit bibir.
“Tadi aku jemput kamu,” Dicky berbisik teramat pelan.
Karin ingin menangis mendengarnya. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa. Mas Yo, pelatih mereka tiba. Mereka mulai pemanasan dan latihan.
Seringkali Karin ditegur. Dia sering melakukan kesalahan. Semangat latihannya amblas entah ke mana. Konsentrasinya buyar tak tentu rimba.
Karin tahu. Dicky memperhatikan keganjilannya. Tapi cowok itu diam saja. Tidak seperti biasanya, dia lebih sering melatih Susi atau Mimi, atau yang lainnya. Asisten Mas Yo itu selalu menghindarinya,
Karin mendesah.
*** Bersambung ke Bagian Berikutnya, ya...! ***

Sunday, November 4, 2018

Seuntai Maaf, Segumpal Sesal (Bagian 3)


Rasa sesal di dalam hati diam tak mau pergi
Haruskah aku lari dari kenyataan ini
Pernah kumencoba ‘tuk sembunyi
Namun senyummu tetap mengikuti….

TAKBIR berkumandang, menyambut datangnya Idul Fitri, hari kemenangan Umat Islam sedunia.
Seharusnya kemenangan itu juga milikku. Karena baru tahun inilah, aku merasakan nikmat Ramadhan yang hakiki. Sebelumnya bagiku Ramadhan sama dengan bulan lainnya. Bedanya, hanya siang kelaparan dan kehausan karena puasa. Sementara ibadah lainnya tetap kulewatkan seperti biasa.
Baru Ramadhan kali ini aku kembali menyentuh sajadah. Itu karena tiga hari sebelum Ramadhan, tanpa sengaja aku menemukan sajadah, baju koko, sarung, kopiah, dan tasbih yang pernah dihadiahkan Mel padaku. Saat itu kebetulan aku berniat mensortir ulang lemariku, membuang benda-benda yang mengingatkanku pada Riska.
Rasa bersalah semakin menghantuiku. Aku ingat, betapa Mel ingin aku menggunakan hadiah yang diberikannya. Saat itu aku cuma berjanji, tanpa memastikan. Kemudian kusimpan di pojok lemari, tanpa pernah membukanya lagi.
Hari itu kucoba mengenakannya sambil mematut diri di cermin. Dalam hati kubertanya-tanya. Seandainya Mel melihatku memakainya, mungkinkah dia akan memaafkan kesalahanku? Aku tak mau seumur hidup dibebani penyesalan. Aku sangat ingin dia memaafkanku.
Berbekal harapan itu, aku kemudian lari ke toko buku. Kucari buku tuntunan shalat agar bisa kembali mengerjakannya. Itulah pertama kali aku kembali tersungkur di atas sajadah setelah sekian lama berkelana tak tentu arah.
Aku seolah menemukan tempat pelarian yang tepat. Di atas sajadah, aku bisa berkeluh-kesah. Kuadukan segala yang kualami. Kutangisi luka yang menganga. Kutumpahkan kegundahan yang kurasakan. Kuceritakan penyesalan yang menghantui. Sampai akhirnya, tanpa kusadari hidupku kembali terasa ringan, lukaku mengering tanpa terasa perih lagi, serta semangat baru kembali terisi.
Ramadhan kali ini baru aku merasakan arti kemenangan yang sebenarnya. Namun masih ada satu ganjalan. Aku masih berutang seuntai maaf pada seseorang yang sebenarnya berjasa memberikanku kemenangan ini, sehingga segumpal sesal itu masih mengganjal sanubari.
Aku bertekat menuntaskan segalanya. Aku ingin Idul Fitri tahun ini terlahir kembali dalam keadaan fitrah, dan menjadi diriku yang baru. Itulah sebabnya, Idul Fitri ketiga aku berangkat ke kota asal Mel, meski dengan informasi seadanya.

Untunglah aku bisa membujuk Ardi memberikan alamat Rifki. Semula dia enggan. Tapi melihat kesungguhanku, dia akhirnya luluh juga. Aku yakin, melalui Rifki, aku bisa menemui Mel.
*** Bersambung ke Bagian Berikutnya, ya...! ***

Friday, November 2, 2018

Menanti Elang Berhenti Bertualang (Bagian 3 - Tamat)


FAISALmenghentikan langkahnya beberapa meter dari teras kos Airin. Dia melihat dua sosok tubuh keluar dari pintu. Sosok tubuh Airin dan … Pandu! Tuhan, haruskah aku kehilangan gadis itu juga sekarang?
Mereka tertegun memandang Faisal yang bediri mematung. Lama mereka Cuma saling pandang. Pandu yang mula-mula bergeming. Mengangguk kea rah Airin sebagai ucapan pamit. Lalu aku melangkah kea rah Faisal.
Di hadapan Faisal, Pandu berhenti. Diletakkannya telapak tangan ke bahu Faisal. “Kau belum terlambat, Sobat,” bisiknya lirih, agak serak. “Belum pernah kulihat gadis setabah dan segar dia.”
Pandu menepuk-nepuk bahu Faisal, sebelum akhirnya melangkah lagi.
Faisal menatap Airin, nyaris tak percaya. Pelan dia mendekati. “Ak… aku ber … angkat besok, Rien<’ ucapnya tersendat. Menelan ludah berkali-kali untuk membasahi tenggorokannya yang kering. “Aku tak bisa pergi sebelum memastikan kau akan sabar menanti kepulanganku.”
Airin terbelalak. Tak salahkah pendengaranku, Tuhan? Bisik hatinya lirih. Baru saja aku menghadapi dilemma. Hampir saja dia menerima Pandu tadi, karena sudah terlalu putus asa. Elang itu semakin jauh saja dari jangkaunya. Dia tak pernah lelah berpetualang. Tak pernah mempedulikannya walau sekadar mengucap pamit sebelum kepergiannya. Untunglah hati kecil Airin menolak. Pandu akhirnya pulang membawa kecewa. Biarlah! Kelak akan ada cewek lain yang cocok untuknya.
Tapi sekarang Sang Petualang itu datang. Dia mengharap aku menunggunya pulang. Bodohnya dia! Bukankah selama ini aku selalu menunggu walau tanpa dia minta?
Mata Airin berbaca. Makin menebal, menggumpal di sudut mata. Butiran bening itu, kemudian merembet di sela bulu mata, dan meleleh merayapi pipinya yang mulus.
Faisal mendekat. Ada sesal yang menyesak dadanya. Gemetar tangannya terangkat, menghapus airmata yang mengalir di pipi Airin dengan telunjuknya.
Tuhan, aku telah membuat gadis ini menderita cukup lama! Faisal merengkuh bahu Airin, membawanya ke rengkuhannya, dipeluknya erat. “Aku menyayangimu, Airin. Aku membutuhkan kamu. Aku takut kehilangan dirimu,” desahnya serak.
Airin makin terisak. Tubuhnya berguncang di pelukan Faisal. Tangis haru dan bahagia. ***
Dimuat sebagai Cerita Utama di Anita Cemerlang Vol. 543 Tgl. 2 - 12 Mei 1996


Terima kasih sudah membaca cerita ini... Silakan baca cerita lainnya, ya...! Selamat membaca...

Thursday, November 1, 2018

Menanti Elang Berhenti Bertualang (Bagian 2)


Faisal
UNTUKkesekian ratus kalinya aku berbalik, mengubah bara berbaringku. Kali ini menghadap meja belajar. Di atasnya terdapat tas traveling lumayan besar, satu kardus dan bungkusan kecil. Sejak siang tadi, aku menyiapkannya, karena besok pagi-pagi aku pergi langsung ke lokasi KKN.
Makin dekat menjelang keberangkatan, hatiku makin gundah gulana. Aku kehilangan gairah untuk mengikuti berbagai pengarahan. Padahal tadinya aku sangat bersemangat. Malah berharap mendapat lokasi KKN yang jauh sekalian, ke daerah yang belum pernah kudatangi. Sekalian memuaskan jiwa petualanganku.
Sekarang malah ada rasa enggan untuk berangkat. Aku takut pergi jauh-jauh menginggalkan kota ini. Aku takut perpisahan ini akan menyebabkan aku kehilangan… Tuhan! Berpikir apa aku ini?
Ini semua gara-gara Edo! Gara-gara pembicaraanku dengannya ketika kami sama-sama mendaki merapi minggu lalu. Kami dan beberapa orang teman memang benar-benar setan gunung. Hampir tiap minggu pasti naik gunung atau kegiatan alam lain. Kalaupun lagi bokek, kami naik Merapi, gunung paling dekat. Lumayan daripada nggak sama sekali.
Saat itu anak-anak masih malas pulang. Mereka istirahat dan tiduran di punggung gunung. Sebagian sudah pulas, kesuali aku dan Edo. Kami ngobrol ngalor-ngidul. Dan entah dari mana asal mulanya pembicaraan kami sampai pada Airin.
“Kayaknya Airin akrab sama Pandu, ya?”
Aku terkesiap sesaat. Memandang wajah Edo, mencari maksud sesungguhnya mengapa dia berkata begitu. Maklum, dia adalah salah seorang sahabat dekatku yang tahu banyak tentang diriku selain Yoga. Aku curiga dia punya maksud apa-apa. Tapi wajah Edo tidak menggambarkan apa-apa. Tetap datar saja.
“Mereka teman sejak SMA,” jawabku akhirnya.
“Kayaknya Pandu naksir Airin,” Edo diam sebentar, memandangku. “Kamu nggak cemburu?”
Aku cemburu? Pada Airin? Entahlah! Aku masih bingung untuk menjawabnya. Perasaanku sendiri sukar untuk raba.
Airin! Aku mendesah. Cewek itu manis juga memang. Dia adik kelas kami. Aku mengenalnya karena aku mengenal sebagian temannya, seperti Yoga dan Sari. Dan aku tahu, cewek manis itu menyukaiku.
Aku bisa membaca dari sikapnya. Dia agak nervous bila berhadapan denganku. Lebih banyak diam mendengarkan. Padahal kalau sama yang lain dia suka ngocol juga. Wajahnya cepat tersipu bila kutatap. Dan paling meyakinkan, dia selalu menghindari tatapanku dari matanya.
Akhirnya aku tahu mengapa. Karena dia tidak ingin aku melihat binar-binar aneh di matanya yang jernih itu, yang senantiasa membiaskan rasa cinta kasih. Jatuh cintakah gadis itu padaku? Lalu aku, sukakah juga padanya?
Terus terang, aku juga suka. Airin cewek yang cukup menyenangkan. Pribadinya baik dan menarik. Tapi cinta? Ah, rasanya kata itu sudah kubuang jauh-jauh dari hatiku.
Aku menoleh. Ternyata Edo masih terus memandangiku. Seakan mencoba menafsirkan setiap reaksi kecil yang terlukis di sana.
“Kau jangan munafik, Sal! Sebenarnya kamu suka juga kan pada Airin?” katanya dengan nada tuduhan yang tidak bisa ditawar-tawar. “Cuma kegagalan masa lalumu yang terus menghantuimu, membuatmu ragu.”
Aku membuang pandangan. Jauh ke lereng yang hijau. Mungkin Edo benar. Aku memang tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari sahabatku ini. Dia seakan mengerti tiap lekuk hatiku.
Mungkin aku juga menyukai Airin. Aku tertarik padanya. Aku mengharapkannya. Namun dua luka yang membiru masih tersimpan di sudut hatiku yang beku. Luka yang pernah ditorehkan oleh dua orang cewek yang pernah menawarkan sesuatu yang sama dengan yang ditawarkan Airin. Cinta. Namun bagaimana akhirnya? Cinta yang mereka katakana suci itu ternyata tak bermakna. Begitu mudah berpindah-pindah.
“Sebenarnya kamu tidak perlu berpikir begitu,” kata Edo lagi. “Airin tidak sama dengan Ernita maupun Ira.”
Aku tahu. Mereka memang tidak sama. Airin jauh lebih baik dari mereka berdua. Kasih saying dan perhatiannya tulus. Pengertiannya begitu dalam. Kesabarannya sangat luas. Dan kesetiaannya tak perlu diragukan.
Pernah secara tidak langsung aku menyarankan agar dia melenyapkan saja harapannya padaku. Waktu itu dia memang tidak menjawab. Namun pada saat lain dia menjawabnya, juga secara tidak langsung.
Waktu itu kami sedang bersiap-siap berangkat untuk naik Gunung Slamet. Starnya di ruang Mapala. Airin singgah sebelum kuliah, sekdar mengucapkan selamat jalan.
“Kamu nggak minta dibawain oleh-oleh, Rin?” canda Edo sambil sibuk mempersiapkan peralatan.
“Alah, aku nggak bisa ngasih apa-apa,” serobotku sebelum Airin menjawab.
Aku menatapku agak lama. Matanya yang jernih itu berkaca-kaca. “Saya juga nggak mengharap apa-apa. Saya sudah bahagia dengan apa yang ada pada saya, pada apa yang saya punya. Asal saya diijinkan untuk menikmatinya.”
Aku tertegun. Selintas kalimat Airin kedengaran memang biasa. Tapi aku menangkap makna yang dalam di baliknya. Juga matanya seakan menyiratkan kata-kata. Berupa permohonan agar diizinkan untuk terus memelihara perasaan. Karena dia tidak mengharapkan balasan. Dia sudah bahagia dengan cintanya.
Tuhan! Sebenarnya aku ingin sekali memeluknya waktu itu. Menumpahkan rasa yang mengharubiru hatiku. Tapi aku malah pura-pura tak mengerti. Alangkah naifnya!
“Nggak pengen dioleh-olehin edelweiss, Rien?” tanya Edo lagi.
“Kalian pulang dengan tak kurang apapun adalah oleh-oleh yang paling berharga.”
Aku dan Edo bertukar pandang, dan mendesis, “Terimakasih!”
Ah, alangkah baiknya gadis itu! Alangkah lembut hatinya!
Satu kalimat sederhana yang selalu diucapkannya bila tahu aku akan pergi berpetualang. “Hati-hati!” Satu kata yang mampu mewakili betapa dalamnya perhatiannya.
“Jarang ada cewek sesabar Airin, Sal. Tidak juga Rosi,” ucap Edo sambil tersenyum. Mungkin dia ingat ceweknya itu. “Anak itu kadang keluar juga egoisnya. Kalau sudah begitu, aku yang harus mengalah.”
Aku menarik napas. Udara gunung yang sudah menghangat memenuhi rongga dadaku. Kesabaran Airin memang sangat luas, seluas samudera raya. Dia selalu hadir saat aku memerlukan seseorang. Mendengarkan ceritaku dengan sabar. Menanggapi keluhanku dengan penuh perhatian. Bahkan sering dengan rela dia menjadi tumpahan kekesalanku. Kemudian dia akan berusaha menghidurku. Berusaha membuatku tersenyum.
Aku meremas rambutku yang agak gondrong.
“Tahu apa yang kutakutkan, Sal?” tanya Edo tiba-tiba.
Aku menoleh. “Apa?”
“Suatu hari kelak bila kamu baru menyadari bahwa kamu menyayangi Airin, membutuhkannya dan ingin meraihnya, namun gadis itu sudah terlanjur menjadi milik orang lain.”
Aku membelalak.
“Kau pasti akan sangat menyesal. Kecewamu pasti akan lebih menyakitkan dari dua kegagalanmu sebelum ini,” Edo setengah berbisik. “Karena kali ini kesalahan terletak pada dirimu sendiri. Kamu terlalu lama menyia-nyiakan kasih tulusnya.”
Aku mengeluh. Berat sekali. Selama ini aku memang telah menyia-nyiakan kasihnya, menyia-nyiakan penantiannya. Sama sekali aku tidak pernah membuatnya bahagia. Aku malah seakan sengaja membuatnya menderita.
Uh, betapa jahatnya aku! Aku bahkan menikmati penderitaannya. Entah kenapa aku suka sekali memancing percik-percik bara cemburu di mata bening itu dengan cara berakrab-akrab dengan cewek lain. Aku suka melihat gurat-gurt kecewa di wajahnya. Aku menikmati penantiannya dan sengaja mengulur-ulurnya.
Tapi Airin akan tetap menungguku. Dia sering mengisyaratkan itu. Bahwa dia akan terus menanti dengan setia, walau akhirnya akan sia-sia. Karena dia sudah merasa bahagia dengan rasa cintanya.
“Tidak. Airin tidak akan pernah berpaling,” sahutku pasti. “Dia akan terus menanti dengan sabar.”
Edo tertawa. Kedengaran sumbang.
“Kau jangan seyakin itu, Sal! Ingat, kesabaran manusia itu ada batasnya! Sesabar-sabarnya Airin, dia tetap seorang cewek, manusia biasa.”
Aku tertegun. Hatiku membenarkan ucapan Edo.
“Apalagi di saat penantian yang tak berkepastian itu hadir seorang cowok lain yang memberinya perhatian penuh. Ibarat kerasnya batu, akan luluh bila setiap hari ditetesi air. Sekeras-kerasnya hati cewek, dia tetaplah makhluk lembut yang perasa. Dia akan luluh dengan perhatian dan kesabaran.” Edo meneruskan. Dia menunggu reaksiku. “Kukira Pandu memiliki itu.”
Ada yang bergetar di rongga dadaku. Gelombang kecemasan mulai kurasakan. Merambat lambat namun pasti.
“Kuharap kau memikirkannya, Sal! Agar tak ada penyesalan di kemudian hari.” Edo mengakhiri pembicaraan. Dia merebahkan diri di samping tubuh teman-teman lainnya yng sudah pulas lebih dulu.
Aku memang memikirkannya. Sejak saat itu sampai detik ini. Sampai aku kehilangan konsentrasiku. Kehilangan gairah dan semangat. Kecemasan yang semula Cuma sebentuk riak-riak kecil, makin membesar, sampai menjelma jadi gelombang yang siap menciptakan badai.
Tuhan! Betapa sekarang aku ketakutan! Aku takut kehilangan Airin. Aku takut kehilangan tatap mata jernihnya yang penuh kasih. Takut kehilangan perhatiannya yang tulus. Takut kehilangan tutur katanya yang penuh kedamaian.
Besok pagi aku akan pergi. KKN selama dua bulan penuh. Siapa yang bisa menjamin Airin tetap menungguku dengan kasih beningnya? Siapa tahu dia lebih memilih perhatian Pandu yang lebih nyata. Sebab aku sendiri tidak pernah pasti.
Lalu sanggupkah aku menghadapinya nanti? Mampukag aku menerima dengan rela bahwa perhatian tulus gadis itu bukan lagi untukku? Bisakah aku… Ah, tidak! Tuhan, jangan!
Rafleks aku bangkit dari pembaringan. Kusambar jaket yan tergantung di balik pintu. Keluar kamar dan langsung menuju garasi. Kupacu motorku menuju gadis itu.
*** Bersambung ke Bagian Berikutnya, ya...! ***

Kepsek Banjarbaru Antusias Daftar Sekolah Penggerak

Para kepala sekolah di Banjarbaru antusias mendaftar Program Sekolah Penggerak (PSP). Antusiasme ini terlihat di Aula Pangeran Antasari, Lem...