Showing posts with label Aktivitas. Show all posts
Showing posts with label Aktivitas. Show all posts

Monday, April 6, 2020

Jabatan Kepala LPMP Kalsel Diserahterimakan


Di tengah keprihatinan bencana virus corona atau COVID 19, Jabatan Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Kalimantan Selatan diserahterimakan  dari Drs Nuryanto, M.Pd kepada Pelaksana Tugas (Plt), Dr Zaenal Fanani, M.Ed.
-----------------------------------------------------------------------------------

Acara serah terima jabatan ini digelar, Selasa (31/03) di Ruang Microteaching ini hanya disaksikan sebagian kecil Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Pegawai Tidak Tetap (PTT), karena sebagian besar lainnya melaksanakan Bekerja Dari Rumah (BDR) atau Work From Home (WFH) demi mencegah meluasnya penyebaran COVID 19. ASN yang hadir kebetulan masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan di kantor sementara PTT adalah mereka yang mendapat giliran bekerja di kantor. Selain tidak banyak, susunan kursi mereka yang hadir juga diatur berjarak antara 1-2 meter.

Diungkapkan Nuryanto yang menjabat Kepala LPMP Kalsel sejak 12 Desember 2017 lalu ini, meski disesuaikan dengan situasi dan kondisi, acara serah terima harus dilaksanakan, karena hari itu adalah hari terakhirnya bertugas sebagai ASN yang memasuki masa pensiun esok harinya. Jadi sebelum ada pejabat resmi yang ditunjuk pusat, pejabat Plt Kepala harus ditunjuk agar tidak ada kekosongan sehingga tugas rutin lembaga tetap bisa berjalan sebagaimana seharusnya.

Berdasarkan Surat Edaran Badan Kepegawaian Negara Nomor 2/SE/VII/2019 tentang Kewenangan Pelaksana Harian atau Pelaksana Tugas dalam Aspek Kepegawaian, penunjukkan Zaenal Fanani  sebagai Plt tidak perlu menunggu keputusan dan pelantikan dari pemerintah pusat, tapi cukup  surat perintah dari Pejabat Pemerintahan lebih tinggi yang memberi mandat. Pejabat Plt yang bergabung sebagai Widyaiswara (WI) di LPMP sejak tahun 1999 ini akan melaksanakan tugasnya paling lama 3 bulan dan dapat diperpanjang paling lama 3 bulan berikutnya.

Karena tidak semua ASN dan PTT bisa menghadiri acara serah terima ini, Nuryanto menyampaikan salam perpisahan melalui pesan suara di grup Whats App. Dia mengucapkan terima kasih atas kerja sama, kerja keras dan sumbangsih untuk membangun LPMP Kalsel.   Selain itu juga meminta maaf karena belum dapat memberi kontribusi yang terbaik untuk kemajuan LPMP Kalsel serta untuk hal-hal yang tidak berkenan di hati selama dia memimpin LPMP Kalsel.
Pesan suara mantan Kepala LPMP Jambi ini langsung direspon positif sebagian besar anggota merupakan seluruh ASN LPMP Kalsel dengan mengungkapkan terima kasih, maaf serta doa untuknya.

Coba tonton videonya di
Menurut kalian bagaimana? Sudah cocok jadi youtuber mukbang? Hehehe…
Follow juga aku Instagram, FB, Twitter, Wattpad, Inspirasi, dan Plukme

Tuesday, March 17, 2020

‘A Taxi Driver’, Si Pejuang Kebenaran


Tahu film ini bagus karena dipuji seorang blogger yang mereview film ‘Parasite’. Katanya, kebetulan aktor utama kedua film ini sama. Jadi berniat mencari laman yang menyajikan streaming film ini. Eh, belum sempat nyari-nyari, gak tahunya, Minggu (15/03) lalu ditayangkan di Trans 7. Pucuk di cinta ulam tiba.
 --------------------------------------------------------------------


Ketika nonton filmnya, seketika langsung setuju mengapa banyak dipuji. Penulis Jadul juga setuju filmnya bagus. Alasannya mungkin subyektif. Karena film ini menceritakan perjuangan seorang jurnalis televisi untuk memberita kebenaran dibantu seorang supir taksi. Yang pernah menjadi jurnalis, pasti setuju film ini bagus.
Jadi, dikisahkanlah seorang pengemudi taksi bernama Kim Man Suk. Seorang duda yang tinggal bersama putrinya yang masih bocah, Eun Jung. Hidup mereka cukup sulit. Demi mendapatkan uang lebih untuk membayar sewa rumah, Man Suk menyalip penumpang pengemudi taksi lain yang sudah dipesan.
Penumpangnya adalah orang asing berkebangsaan Jerman, Jurgen Hinzpeter yang ingin diantar ke Gwang Ju. Si penumpang mengira yang menjemputnya adalah supir taksi yang sudah dia pesan sebelumnya, dan mengetahui resiko yang akan dihadapi. Padahal Man Suk sama sekali tidak menyadarinya.
Dia terheran-heran ketika jalan menuju Gwang Ju ditutup dan dijaga tentara. Semula Man Suk hendak kembali ke Seoul, tapi Jurgen yang berkeras mengancam tidak akan membayarnya. Man Suk berusaha mencari jalan lain yang ternyata juga ditutup, Mereka bisa masuk dengan mengelabui penjaga.
Memasuki Kota Gwang Ju, Man Suk baru sadar apa yang dihadapinya. Demonstrasi besar-besaran yang dimotori mahasiswa yang menuntut demokrasi dari pemerintah rezim militer. Apalagi dia mengetahui, pria asing yang dibawanya adalah seorang Jurnalis. Ketika bertemu sekelompok mahasiswa pengunjuk rasa, dia langsung ikut mobil mereka untuk melakukan wawancara. Para mahasiswa itu pun menyambutnya. Beruntung, salah satu mahasiswa bernama Gu Jae Sik, bisa berbahasa Inggris.
Sebenarnya Man Suk sudah berusaha menghindari situasi tersebut. Tapi ketika seorang nenek minta tolong untuk diantar ke rumah sakit, dia tak bisa menolak. Akhirnya di rumah sakit, dia bertemu lagi dengan para mahasiswa dan Jurgen. Sempat terjadi pertengkaran di antar mereka, karena Jurgen mengira Man Suk sengaja melarikan tasnya yang tertinggal di taksi. Bukan cuma para mahasiswa, Hwang Tae Sol, ketua pengemudi taksi lokal juga ikut menyalahkan Man Suk.

Demi membuktikan dia tidak berniat mencuri, Man Suk lanjut mengantarkan Jurgen ke pusat kota di mana demontrasi terkonsentrasi. Di sana dia melihat sendiri, tentara dengan refresif menembaki para demonstran yang terdiri dari mahasiswa dan warga yang tidak bersenjata.
Melihat ada wartawan asing di tengah pengunjuk rasa, para tentara mengejar mereka. Tujuannya merebut kamera Jurgen agar berita tentang kondisi Gwang Ju sebenarnya tidak tersebar. Jae Sik rela mengorbankan dirinya agar kebenaran bisa didengar dunia. Man Suk sendiri hampir kehilangan nyawanya bila tidak ditolong Hwang Tae Sol.
Man Suk tak bisa kembali ke Seoul karena taksinya rusak. Bermalam di rumah Tae Sol membuat Jurgen dan Man Suk semakin mengetahui betapa mencekamnya Gwang Ju. Berkat bantuan Hwang Tae Sol,  taksi Mansuk bisa diperbaiki. Taksi tersebut berubah warna agar tidak dikenali sebagai taksi Seoul yang menyusup ke Gwang Ju, sehingga bisa kembali dengan aman.
Tapi sesampai di pinggir kota, Man Suk akhirnya kembali ke Gwang Ju menjemput Jurgen. Dia bertekat membantu Jurgen sampai mengantarkannya ke bandara agar kebenaran tentang Gwang Ju diketahui dunia.
Selanjutnya bagaimana…? Kalian yang nonton tahu sendiri lah, ya…!
Yang menarik, cerita ini berdasarkan kisah nyata Jurgen Hinzpeter yang berhasil mendapat penghargaan jurnalisme karena liputannya di Gwang Ju. Namun Jurgen sendiri mengakui, dia tidak akan berhasil tanpa bantuan Kim Man Suk, seorang pengemudi taksi yang sangat berani.
Gara-gara film ini, jadi searching tentang peristiwa di Gwang Ju tahun 1980. Gak nyangka, ternyata Korea pernah punya sejarah kelam seperti itu. Jadi ingat sejarah kelam yang juga pernah dialami negeri ini. Jadi ingat Jumat Kelabu di Banjarmasin tanggal 23 Mei 1997. Semoga jadi pelajaran untuk tidak terulang lagi.
Sutradara : Jang Hoon
Penulis : Eom Yu Na
Pemain :
Song Kang Ho sebagai Kim Man Suk
Thomas Kretcsmann sebagai Jurgen Hinzpeter
Yoo Hae Jin sebagai Hwang Tae Sool
Ryu Jun Yeol sebagai Gu Jae Sik
Yoo Eun Mi sebagai Eun Jeong

Sumber/ foto
Remake Trans7
Kunjungi, tonton, like, komen, dan subribe juga di channel youtube
Follow Instagram, FB, Twitter, Wattpad, Inspirasi, dan Plukme

Barakallahi Fii Umrik, Pak Nur


Hari ini, tidak seperti biasa usai apel pagi, kami --- karyawan LPMP Kalsel tidak bubar jalan, tapi tetap bertahan. Mikropon diambil alih Kaubbag Umum untuk diserahkan kepada Nurul Amini yang menjadi pembawa acara. Meskipun tidak pas pada tanggalnya, yakni tanggal 16 Maret kemarin, tapi kami masih ingin merayakan Ulang Tahun Pak Nuryanto, Kepala LPMP Kalsel.
-----------------------------------------------------------------------------------

Jadi diiringi lagu Selamat Ulang Tahun dari Jamrud, Pak Nur --- begitu biasa beliau dipanggil,  dipersilakan memasuki lobby kantor diikuti pegawai lain. Di sana sudah disiapkan seperangkat nasi tumpeng yang bertuliskan ‘Selamat Ulang Tahun Pak Nur.
Mewakili seluruh pegawai, Nurul mengucapkan selamat ulang tahun berikut doa terbaik untuk Kepala LPMP yang pindah tugas ke Kalsel dari Jambi sejak akhir tahun 2017 lalu ini. Diharapkannya, momen ini menjadi kenangan terbaik yang akan selalu diingat, karena tinggal beberapa hari lagi beliau akan memasuki masa pensiun.
Menanggapi hal ini, Nuryanto tidak bisa menyembunyikan perasaan haru.  Dengan suara serak, dihaturkannya kepada seluruh pegawai karena dia tidak mengharap ulang tahunnya akan dirayakan seperti ini.
“Sebenarnya, saya ingin lebih lama lagi di sini, berkumpul dan bekerja sama di LPMP Kalsel ini, dan berbuat lebih banyak lagi,” ungkapnya karena menyadari kebersamaan mereka tinggal hitungan hari karena awal April mendatang sudah akan memasuki masa pensiun.

Suasana haru makin terasa ketika Sayyid Lukmanul Hakim diminta membacakan doa dalam acara ini. Sebelumnya, Lukman mengakui, selama Pak Nur bertugas di Kalsel telah memberi banyak pelajaran kepada pegawainya, masalah kedisiplinan dan lain-lain.
Selesai doa, Nuryanto diminta untuk memotong tumpeng ulang tahun yang telah disediakan. Potongan tumpeng diberikannya kepada Abdul Rasyid, pegawai LPMP yang juga akan pensiun tahun ini seperti dirinya. Setelah itu, pegawai lainnya diberikan kesempatan untuk mengucapkan selamat dan menikmati hidangan berupa pundut nasi, kuliner khas Kalsel serta mencicipi tumpeng.


Barakallah fii umrik, Pak Nuryanto.  Semoga pian panjang umur, disehatkan badan, dan tetap berkarya di masa pensiun pian dan mendapatkan berkah dari Allah SWT. Doakan juga kami semua agar tetap bisa menjalankan amanah sebagai ASN yang baik dan tertanggung jawab sehingga mendapatkan hidup yang berkah dan diridhoi Allah SWT. Aamiin… Amiin…Amiin Ya Rabbal Aalamiin…
Coba tonton videonya di

Menurut kalian bagaimana? Sudah cocok jadi youtuber mukbang? Hehehe…
Follow juga aku Instagram, FB, Twitter, Wattpad, Inspirasi, dan Plukme

Wednesday, March 11, 2020

Coba-coba Jadi Youtuber Mukbang



Ada yang ga tahu artinya Mukbang? Penulis Jadul juga baru tahu. Katanya berarti makan besar yang disiarkan langsung secara online. Jadi, mulanya, orang Korea makan dengan porsi besar disiarkan online dan ditonton orang seluruh dunia, termasuk Indonesia. Dan ternyata, bisa menghasilkan uang. Hebat, kan?
-----------------------------------------------------------------------------------

Siapa yang tidak pengen? Penulis Jadul pengen banget jadi youtuber terkenal yang bisa menghasilkan uang banyak. Tapi bingung, youtube mau dimasukkan konten apa. Lalu terpikir untuk mengisinya dengan konten makan-makan alias mukbang.
Pasalnya, Penulis pernah nyoba beberapa restoran Korea yang menyajikan menu porsi besar sebagaimana layaknya mukbang yang beberapa kali ditonton di youtube. Restoran pertama yang dicoba adalah Pochajjang di Banjarmasin.

Kebetulan tanggal 8 Desember, ada yang ulang tahun. Jadi Sabtu malam, 7 Desember 2019 berencana makan enak untuk merayakan. Jadwal Sabtu-Minggu, nginap di rumah ortu, Banjarmasin. Pas lewat Jalan A Yani, ngelihat Restoran Barbeque Korea yang baru buka Pochajjang. Karena sering nonton drama Korea yang banyak adegan makan barbekiu, jadi pengen coba juga, bagaimana rasanya.
Setelah Magrib, kami meluncur ke Pochajjang. Ternyata antri. Kami harus menunggu giliran meja kosong. Dicatat dan didata dulu untuk makan berapa orang. Lumayan juga lamanya. Sekitar setengah jam mungkin.
Ketika giliran kami tiba, kami diantar ke meja kosong. Waiternya bertanya, apakah kami penah makan di situ sebelumnya, kami jawab belum. Maka dijelaskannya aturan makan di sana. Boleh makan dan minum sepuasnya selama 90 menit. Per orang Rp99.000 untuk premium beef dan Rp129.000 untuk wagyu beef.


Yah, karena kita orang biasa yang hanya saat tertentu bisa makan seperti ini, tentunya yang dipilih yang harganya minimal. Hehehe… Jadi, begitulah… Kami ditunjukkan mana daging premium yang boleh kami ambil. Kemudian juga sawinya, minumnya, dan lain-lain.
Semula, kami kira 90 menit itu sebentar. Makanya ambil daging tipis-tipis ajar cepat matang. Ternyata, 90 menit itu lama. Bisa nambah berkali-kali. Bahkan, ketika kita sudah kekenyangan, tak sanggup lagi makan, waktunya masih banyak.
Jadi tidak perlu buru-buru masak dan makannya. Jangan sampai, karena buru-buru, makanan masih panas, langsung dimasukkan mulut. Bisa-bisa terbakar lidahnya. Santai saja, dan nikmati.
Pengalaman kedua kami makan besar ala Korea di Restoran Ajibi, Banjarbaru. Kali ini, menunya rebus-rebusan alias shabu-shabu. Satu porsi Rp75.000 saja. Murah, kan? Karena isinya lumayan lengkap. Dagingnya bukan daging sapi dan ayam serta daging olahan saja, ada juga seafood (udang dan cumi). Sayurnya juga lengkap, dari sawi, jamur, tahu, dll. Untuk karbohidrat ada soun. Jadi, tidak ada nasi.

Ketika dihidangkan, kami bertanya dulu kepada waiter bagaimana caranya. Hehehe… Maklum, belum pernah! Diberitahu, untuk daging dimasukkan dalam kuah yang warnahnya hitam, sementara sayur-sayuran di kuah yang warna putih.
Puas makannya. Tidak perlu nambah menu lain, sudah kenyang. Hanya saja, kuahnya agak hambar. Apalagi yang terbiasa asin. Jadi, perlu tambahan bumbu. Sayangnya, tidak disediakan garam, kecap atau bumbu tambahan lainnya di meja.
Kalau di Pochajjangi, Penulis Jadul hanya memotret, tidak merekam, di Ajibi ada rekaman beberapa video. Ketika ditonton, kok hasilnya lumayan. Jadi berniat mengisi channel youtube dengan video makan-makan seperti beberapa youtuber yang terkenal karena konten makan-makan. Tapi ditolak sama yang hendak dijadikan host. Hehehe… Padahal ekpresinya bagus, lho.

Nah, baru-baru ini, tanggal 6 Maret 2020 lalu, untuk merayakan ultah kita makan ala mukbang lagi di Rabenshi, Banjarbaru. Menu yang dipilih, lagi-lagi shabu dan sukiyaki. Satu porsi untuk 2 orang seharga Rp100.000. Lumayan murah. Isinya juga lumayan banyak, walau tidak selengkap di Ajibi karena lengkap dengan seafood. Tapi di sini, ada 4 kuah yang bisa kita pilih; kaldu, karih, sukiyaki, dan 1 lagi apa ya, lupa. Hehehe… Dan rasa bumbunya lebih terasa. Tidak hambar. Kalaupun kurang, ada perlengkapan bumbu tambahan di meja.
Kali ini, yang makan emoh direkam videonya. Jadi, yang direkam makanannya saja. Tapi tetap sempat-sempatin nyuri rekam yang makan. Hehehe… 
Coba tonton videonya di
Menurut kalian bagaimana? Sudah cocok jadi youtuber mukbang? Hehehe…
Follow juga aku Instagram, FB, Twitter, Wattpad, Inspirasi, dan Plukme

Thursday, March 5, 2020

Amanah Ngibar Ditunaikan

Akhirnya, amanah untuk menyampaikan pengisian Sensus Penduduk (SP) 2020 online kepada seluruh warga Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Kalimantan Selatan berhasil ditunaikan, Senin (02/03). Alhamdulillah... Cukup sukses, karena ternyata rekan-rekan sekantor ternyata sangat antusias dan bersemangat berupaya mencatatkan dirinya sebagai penduduk Indonesia secara online.
-----------------------------------------------------------------------------------

Sebenarnya semula Penulis Jadul sempat ragu ketika ditugasi atasan menghadiri Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) SP2020 Provinsi Kalimantan Selatan yang dilaksanakan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Selatan, Selasa (18/02) lalu, di Hotel Rodhita, Banjarbaru. Pasalnya, peserta yang hadir mewakili dinas, instansi atau lembaga pemerintah tempatnya bekerja untuk menjadi anggota Kelompok Kerja (Pokja) SP2020. Tugasnya mensosialisasikannya SP Mandiri 2020 secara online ke seluruh pegawai di instansi tersebut.
Bagaimana caranya, ini yang penulis masih bingung. Karena bila harus menyosialisasikan dari mulut ke mulut, orang per orang, pasti berat. Apalagi penulis tidak pandai bicara. Namanya juga penulis, lebih jago berkomunikasi lewat bahasa tulisan daripada lisan. Tapi yang namanya tugas, harus dilaksanakan. Harus berusaha melakukan yang terbaik agar hasilnya maksimal. Bukan begitu?

Jadi begitulah, Penulis Jadul menghadiri rakorda tersebut. Mendengarkan panjang lebar penjelasan tentang Pelaksanaan Sensus Penduduk, yang dulu dan yang sekarang. Bila dulu dilaksanakan dengan metode tradisional, yaitu pencatatan dari rumah ke rumah. Yang sekarang menggunakan metode kombinasi. Tahap pertama  penduduk mencatatkan diri dan keluarganya secara mandiri dengan online melalui sensus.bps.go.id yang dilaksankan 15 Februari sampai 31 Maret 2020. Selanjutnya tahap melengkapi data yang diperoleh secara online dengan metode tradisional yakni pencatatan dari rumah ke rumah.
Ternyata, setelah mengikuti rakorda, penulis dititipi surat daru BPS untuk lembaga yang berisi permohonan izin untuk melakukan pendampingan pengisian SP Online kepada seluruh pegawai di LPMP Kalsel. Selain itu, peserta juga diminta bergabung dalam grup WA anggota Pokja untuk kelancaran komunikasi anggota pokja dengan pihak BPS.
Sebagaimana prosedur, surat yang masuk diberikan kepada tim persuratan untuk disampaikan kepada Kepala LPMP melalui e-office maupun manual. Setelah beberapa hari, penulis cek, surat sudah didisposisikan kepada Kasubbag Umum dan sudah dibaca.
Maunya penulis secepatnya menanyakan kepada Kasubbag Umum bagaimana jawaban surat tersebut dan kapan bisa dijadwalkan pendampingan tersebut. Hanya saja tanggl 25-27 Februari ada kegiatan IHT yang diisi deklarasi ZI WBK. Jadi, penulis yakin, Kasubbag pasti sedang sibuk mengurusi kegiatan tersebut. Makanya rencana, setelah IHT kelar, baru bicara dengan kasubbag.

Tapi di grup Pokja instansi dan lembaga lain sudah menentukan jadwalnya. Pihak BPS juga menghendaki jadwal sudah ditetapkan paling lambat tanggal 26 Februari. Akhirnya, setelah kegiatan Deklarasi WBK, di saat IHT masih berlanjut, penulis mengingatkan Kasubbag Umum tentang surat ini.
Sebelum lanjutan materi dalam WBK, Kasubbag Umum akhirnya menyampaikan kegiatan pendampingan dengan metode ngibar atau ngisi bareng bisa dilaksanakan Senin (02/03). Alhamdulillah… Kegiatan tersebut berjalan lancar dan sukses. Ada teman-teman yang ngotot berusaha mengisi SP Online sampai berhasil, meski yang lain sudah meninggalkan ruangan. Semangat pantang menyerah yang patut diacungi jempol. Tercatat sebagai penduduk Indonesia memang perlu perjuangan. Ya, gak…? Hehehe….
Kunjungi, tonton, like, komen, dan subribe juga di channel youtube
Follow Instagram, FB, Twitter, Wattpad, Inspirasi, dan Plukme

Wednesday, March 4, 2020

Wisata Susur Sungai Bareng di IHT


Ada yang baru dalam In House Training (IHT) LPMP Kalsel tahun 2020 ini di Swiss Bel-borneo, Banjarmasin, yang dilaksanakan Selasa (25/02) sampai dengan Kamis (27/02) lalu. Selain diawali Kegiatan Deklarasi Zona Integritas (ZI) menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (ZI-WBK) serta Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) secara resmi dan terbuka, Selasa (25/02) sore dan diakhiri dengan wisata susur sungai bareng ke Pasar Terapung Lok Baintan, Kamis (27/02) subuh.
-------------------------------------------------------

Oleh karena itulah, IHT kali ini lebih seru.
Pertama, hotel yang dipilih juga merupakan hotel yang belum pernah didatangi sebagian besar pegawai LPMP. Terletak di pinggir Sungai Martapura, sehingga pemandangan sekitarnya juga khas Kota Seribu Sungai. Meski tercatat sebagai warga Kalsel, sangat jarang Penulis Jadul menikmati pemandangan seperti ini.
Kemudian acara paling penting di sini adalah Kegiatan Deklarasi Zona Integritas (ZI) menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (ZI-WBK) serta Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) karena mengundang banyak pihak luar dari Kepolisian, Kejaksaan, BPK Provinsi Kalsel yang menjadi bagian dari 14 saksi, ditambah dari media massa. Memang, program ZI WBK sudah dilaksanakan beberapa tahun sebelumnya, tapi belum diumumkan secara resmi dan terbuka kepada publik. Padahal ini adalah salah satu persyaratan agar sertifikat ZI WBK bisa diperoleh dari Kementerian PAN RI.

Itulah sebabnya, acara ini dipersiapkan sedemikian rupa sebelumnya, bahkan sampai digelar gladi segala. Meski demikian, tetap saja ada hal yang di luar rencana terjadi.  Misalnya, keterlambatan datang para tamu yang membuat acara juga molor. Tapi secara keseluruhan, tetap berjalan lancar, cukup hikmat, dan menarik.
Kenapa menarik? Karena dilanjutkan dengan gelar wicara dengan menghadirkan 4 narasumber dari BPK Provinsi Kalsel, Polres Banjarbaru, Kejati Kalsel dan Dinas Pendidikan Kalsel. Cukup banyak pengetahuan dan pengalaman baru yang mereka bagikan tentang penerapan ZI WBK di instansi pemerintah.
Selanjutnya, kami juga mendapat banyak masukan mengenai berbagai pertanyaan, mengapa LPMP Kalsel belum bisa mendapatka ZI WBK meski sudah melaksanakannya sejak tahun 2018. Ternyata banyak kekurangan yang harus diperbaiki.
Selain itu, seluruh ASN dan sebagian PTT LPMP Kalsel juga diberikan training ESQ untuk memahami meaning of work untuk mengingatkan kembali tujuan bekerja yang sebenarnya serta hakikat hidup di dunia.
Sementara untuk materi lain disampaikan orang dalam LPMP sendiri yakni Pemaparan Program Subbag dan Seksi, Kebijakan administrasi, baik di Kepegawaian maupun Persuratan, dan Sosialisasi SPI dan WBK. Juga ada penandatanganan Pakta Integritas dan Perjanjian Kinerja Individu secara simbolis, senam pagi serta yang paling seru tentunya wisata susur sungai bersama ke Pasar Terapung Lok Baintan.

Ada juga acara dadakan sebagai selingan yang merupakan inisiatif Kepala LPMP Kalsel, yakni tiktok bareng dan lomba nyanyi antar seksi. Lumayan seru pokoknya. Kalo tidak percaya, silakan tonton kumpulan videonya di

Kunjungi, tonton, like, komen, dan subribe juga di channel youtube
Follow Instagram, FB, Twitter, Wattpad, Inspirasi, dan Plukme

Friday, February 21, 2020

Bali Tanpa Kuta


Kata orang, ke Bali tanpa ke Kuta belum sempurna. Tapi bagi Penulis Jadul, tak apalah tidak sempurna. Yang penting, sudah pernah menginjakkan kaki di Pulau Bali. Karena penulis bukan golongan orang yang mudah bila mau ke Bali. Tinggal pesan tiket pesawat dan hotel lewat aplikasi, selesai. Ada golongan masyarakat yang perlu keberuntungan, baru bisa sampai ke Bali. Ya, seperti Penulis Jadul ini. Hehehe….
------------------------------------------------------------------

Ini lanjutan cerita Penulis Jadul berangkat ke Bali dengan rombongan kantor menjelang tahun baru lalu, 29-31 Desember 2019 yang nginapnya di Hotel Puri Tempoe Doeloe di daerah Sanur. Karena kami berada di Bali menjelang tahun baru, kami disarankan supir yang memandu kami untuk mengihindari wilayah Kuta, karena macet.
Jadi begitulah. Setelah kecapekan karena terlalu malam sampai hotel akibat penerbangan delay, paginya kami terlambat bangun. Sarapan di restoran hotel yang bernuansa tempo dulu. Entah mengapa, kawan-kawan tidak cocok seleranya dengan menu yang disajikan. Beda dengan Penulis Jadul, nasi goreng yang tidak pake lauk, tetap habis disikat. Hehehe… Ditambah buah, jus, dan roti serta teh hangat.
Kami berangkat menuju Bedugul. Menghabiskan lebih dari 1 jam perjalanan naik mobil.  Rutenya menanjak. Sepanjang perjalanan menikmati pemandangan khas Bali yang mungkin tidak ditemukan di tempat asal.  Bangunan yang bernuansa klasik, ditambah banyak pura lengkap dengan warga yang berpakaian tradisional khas untuk sembahyang. Benar-benar terasa suasana magisnya. Pantas saja, Bali dijuluki Pulau Dewata.

Sesampai di tempat tujuan, Ulun Danu Beratan, Bedugul, ternyata penuh dengan pengunjung. Mencari tempat parkir saja lumayan susah. Tempat wisata ramainya seperti pasar malam. Baru kami ingat, bukan sekedar libur tahun baru, tapi bertepatan juga dengan libur anak sekolah. Tidak heran, Bali diserbu sebagai tujuan berlibur.
Setelah membeli tiket, kami pun memasuki kawasan wisata yang ternyata sangat luas yang dikelilingi taman dan bangunan mirip pura kecil. Mendekati danau, makin terlihat keindahannya. Bangunan pura yang agung menjorok ke tengah danau. Latar belakangnya gunung, membuatnya semakin mempesona.

Para pengunjung yang terdiri dari wisatawan asing maupun domestik ramai-ramai mencari spot foto untuk menangkap keindahan tersebut. Sialnya, hape Penulis Jadul cepat sekali drop baterainya, jadi tidak bisa ikutan memoto.
Untungnya, di lokasi ini banyak fotografer yang menawarkan jasa. Bukan menggunakan kamera poloroid seperti jaman dulu, melainkan kamera jaman now yang canggih, lengkap dengan printer mungilnya. Jadi setelah cekrek beberapa kali dengan berbagai gaya dan pose, kita bisa memilih mana yang terbaik untuk dicetak. Hasilnya, pasti lebih bagus dari kamera hape yang kualitasnya pas-pasan. Kami juga menggunakan jasa mereka, meski punya kamera hape masing-masing. Apalagi Penulis Jadul yang hapenya drop sama sekali.

Sebenarnya, di danau ini ditawarkan juga wisata air. Tapi kami hanya berkeliling melihat-lihat kawasan daratnya. Tak terasa hari sudah beranjak siang. Sudah masuk waktu Zhuhur.  Jadi, ketika meninggalkan Danu Ulun Batur, Entis, supir kami langsung singgah ke Mesjid Besar Al Hidayah yang lokasinya berseberangan.
Untuk mencapai mesjid, kami menaiki tangga yang lumayan tinggi. Cukup melelahkan, terutama bagi yang tidak terbiasa mendaki. Tapi sampai di atas, rasa syukur langsung bertambah. Karena dari depan Mesjid, kita bisa menikmati keindahan danau yang terhampar di bawah. Masya Allah…! Untungnya, teman bersedia memotret Penulis Jadul berlatar belakang pemandangan ini, jadi ada kenangan yang dibawa.

Usai Sholat Zhuhur, kami mencari tempat makan siang. Mulanya kami dibawa ke Restoran Saras yang lumayan terkenal. Tapi belum sempat parkir, kami diberitahu bahwa restoran tersebut habis dipesan rombongan besar.  Kamipun dibawa ke rumah makan alternatif lain. Sayangnya, Penulis Jadul lupa nama rumah makannya. Yang jelas, rumah makan Jawa yang menunya nasi… apa gitu… Hehehe… Lupa juga..!
Setelah kenyang, kami melanjutkan perjalanan. Lumayan jauh dan lama. Ternyata kami menuju Tanah Lot. Cukup lama di perjalanan sebelum sampai ke tujuan. Pasalnya, kami juga sempat singgah ke penjual durian di pinggir jalan. Pengen nyoba durian Bali. Katanya, Durian Singaraja. Ternyata isinya bagus dan manis. Tidak ada durian yang berulat, mentah atau busuk. Enak, pokoknya! Kami meneruskan perjalanan ke Tanah Lot setelah memuaskan keingintahuan akan rasa Durian Bali.

Ternyata Tanah Lot sama ramainya dengan Danu Ulun Baratan di Bedugul. Kami juga banyak mendapatkan spot-spot menarik di tempat ini, walaupun Penulis Jadul tak bisa memotonya karena batere hape  yang drop. Tapi di spot paling utama, di pinggir pantai, juga banyak fotografer yang menawarkan jasa. Tentu saja, tawaran ini tidak kami sia-siakan, walaupun tentu saja tidak bisa banyak. Hehehe… Karena bisa menguras dana yang tersisa. Seandainya hape tidak drop, pasti sudah banyak pemandangan indah yang terekam di sini. Tapi syukur juga, masih bisa nebeng kamera teman. Hehehe....

Cuaca mendung akhirnya hujan. Untung, kami sempat berteduh di gazebo besar. Cukup banyak gazebo untuk pada turis berteduh. Ada juga yang menawarkan sewa payung. Bahkan ada yang menjual jas hujan murah meriah.
Ketika hujan mulai mereda dan hanya menyisakan gerimis, kami turun ke karang bawah. Mendekati pura yang berdiri di atas karang yang menjorok ke laut. Sangat eksotik. Terutama ketika mentari mulai turun mendekati cakrawala.

Tapi kami tidak sampai sunset di Tanah Lot. Takut kemalaman kembali ke hotel. Lagipula, kami memutuskan mampir dulu ke Toko Oleh-oleh Khas Bali, Krisna, sebelum kembali ke hotel.  Menurut Entis, ada 3 Toko Krisna. Yang kami datangi yang paling besar, dan berlantai 3.
Semula, Penulis Jadul terheran-heran, karena baru kali itu mau masuk toko mesti ditempeli stiker dulu di lengan baju. Sempat bingung mencari oleh-oleh yang diinginkan. Akhirnya belanja macam-macam, dari pie susu, kaos, daster, kain bali, sampai sandal. Asyik pilih-pilih di toko, sampai lupa waktu.
Akibatnya, kami kemalaman lagi sampai di hotel. Kecapekan lagi. Paginya, malas bangun awal. Gagal mau menyambut sunrise di Pantai Sanur. Hahaha…
Esok harinya, waktu kami sempit, karena sore sudah harus di Bandara Ngurah Rai untuk pulang. Jadi dicari tempat wisata yang tidak terlalu jauh dari Bandara. Semula hendak ke Upside Down World, tapi ternyata tutup. Akhirnya kami ke tempat wisata yang menyuguhkan agrowisata kopi dan juga ayunan. Sialnya, Penulis Jadul lupa nama tempatnya…. Begitulah, bila menulis pengalaman yang sudah lumayan lama berlalu, pasti banyak nama tempat yang terlupa.
Tapi, pokoknya, di tempat ini kami diperlihatkan bagaimana memproduksi kopi luwak. Mulai dari kandang Luwak yang diberi makan biji kopi. Kemudian dibersihkan, disangrai, dan akhirnya ditumbuk. Harum kopi yang disangrai semerbak. Kami pun diberi suguhan 14 minuman berupa berbagai macam kopi dan teh. Kami juga diperbolehkan memesan kopi yang ditawarkan.

Selain wisata minum kopi, di sini juga disediakan ayunan untuk yang ingin menguji adrenalinnya.
Tidak terlalu lama kami di sini, karena ternyata ada peserta rombongan yang ingin singgah di Toko Krisna lagi sebelum pulang. Jadi, kami singgah di Krisna yang lokasinya searah menuju Bandara Ngurah Rai. Tak disangka, Penulis Jadul juga menambah belanjaannya. Hehehe…
Demikianlah kisah perjalanan Penulis Jadul ke Bali akhir tahun 2019 lalu, tanpa sempat ke Kuta. Tak apa. Yang penting sudah pernah berada di Pulau Dewata.
        
                       Banjarbaru, ditulis 20 Februari 2020
Kunjungi, tonton, like, komen, dan subribe juga di channel youtube
Follow Instagram, FB, Twitter, Wattpad, Inspirasi, dan Plukme

Hatrik HUTRI 17 Agustus 2019


Memang ini bukan cerita baru. Tapi karena berkesan, makanya pengalaman ini akhirnya ditulis, supaya ingat. Pasalnya, Penulis Jadul berhasil mengumpulkan 3 piala di momen ini. Meskipun ketiganya Juara 3 semua. Hehehe… Juara 3 Bulutangkis ganda putri, Tenis Meja, dan Mengetik, dari 4 Lomba yang diikuti. Hanya Lomba Baca UUD yang gagal meraih juara.
Sebenarnya, sempat ditulis sebagai berita Majalah Mahing. Tapi gagal dikirim, karena datanya tidak lengkap. Nah, beginilah bunyi beritanya… Hehehe…
------------------------------------------------------------------

Memeriahkan Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74, Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Kalimantan Selatan menggelar banyak lomba khusus untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Pegawai Tidak Tetap (PTT). Ada juga yang melibatkan pihak lain, tapi hanya khusus untuk Panjat Pinang.
Pertandingan Bulutangkis dan Tenis Meja mulai paling awal Selasa (13/8), karena memakan waktu paling lama. Kedua olahraga ini hanya mempertandingkan partai ganda putra dan ganda putri, dengan menggunakan sistem gugur, kecuali tenis meja ganda putri yang memakai sistem setengah kompetisi karena hanya diikuti 4 pasangan. Selain pertandingan tenis meja dan bulutangkis, siangnya juga digelar lomba mengetik cepat 10 jari yang diikuti 10 peserta.

Keesokan harinya, Rabu (14/8) pagi Lomba Membaca UUD 1945 dilaksanakan di aula. Sebanyak 15 peserta ikut berpartisipasi. Setelah itu kembali dilanjutkan pertandingan bulutangkis dan tenis meja, yang sudah memasuki babak semifinal dan final untuk putri.

Pasangan Ciriyani/Tumijem berhasil merebaut juara 1 dengan 3 kali menang tanpa kalah. Sementara Farida/Een Marliani sebagai juara 2 dengan membukukan 2 kali menang, 1 kali kalah, dan pasangan Ratnawati/Lis Maulina menjadi juara 3 karena berhasil menang 1 kali dan 2 kali kalah.
Sedang untuk bulutangkis ganda putri Rahmiaty/Ella Agustina meraih juara 1 setelah mengalahkan pasangan Nurul Amini/Een Marliani yang harus puas menjadi juara 2. Untuk juara 3 dimenangkan pasangan Ratnawati/Lis Maulina setelah mengalahkan Aulia Anita/Ciriyani.
Lomba menyanyi yang bersamaan dengan panjat pinang dilaksanakan, Kamis (15/8). Para peserta menyanyikan lagu wajib ‘Hari Merdeka’ dan 1 lagu bebas. Kedua lomba ini digelar di lapangan volley, jadi penonton terpusat di sana. Bisa memberi semangat pada tim yang coba menaklukan ketinggian pohon pinang yang licin diberi oli, sekaligus menonton penampilan para peserta lomba menyanyi.
Setelah perjuangan lebih dari 2 jam, akhirnya tim LPMP Kalsel yang beranggotakan Rusnadi, Elman, Joko, Roly, Hendrayani (Noval) dan Purwanto bisa juga menaklukan pohon pinang. Kerjsama tim, strategi dan perjuangan tak kenal menyerah berhasil menghantarkan Pur ke puncak, mengibarkan bendera merah putih dan memetik beberapa hadiah sesuai dengan ketentuan. Keberhasilan ini disambut meriah penonton yang terus-menerus memberikan semangat.
Siang dan sore harinya, kembali dilanjutkan pertandingan olahraga, tenis meja dan bulutangkis ganda putra yang masih harus mempertandingkan babak semifinal dan final. Akhirnya, final bulutangkis dimenangkan pasangan Nuryanto/Hagi Ismail sebagai juara 1 setelah berhasil mengalahkan pasangan Abdul Rasyid/Ahmad Gafuri yang akhirnya harus puas menjadi juara 2. Sementara gelar juara 3 direbut pasangan Syahruddinnoor/Arif Sri Wiyana yang mengalahkan pasangan Saipurrahman/Roby Suganda.
Jumat (16/8) pagi, digelar Jalan Sehat yang diikuti seluruh ASN dan PTT. Dimulai pukul 07.30, dengan rute, jalan Gotong Royong, Sejahtera, Taruna Praja, Jalan Panglima Batur, dan kembali masuk jalan Gotong Royong. Setelah menyelesaikan rute, dilakukan pengundian doorprize untuk peserta. Setelah itu, digelar lanjutan pertandingan tenis meja ganda putra yang juara 1 diraih pasangan Saipurrahman/Zainurrah, Juara 2 pasangan Djulfiani Ishak/M. Yusuf, dan Juara 3 pasangan Sucipto/Huryin.
Puncak peringatan HUT RI ke-74 diselenggarakan Upacara Bendera, Sabtu (17/8), di halaman LPMP Kalsel yang diikuti seluruh ASN dan PTT 4 Unit Pelksana Teknis Kemdikbud, yakni LPMP, BP PAUD Dikmas, Balai Bahasa dan Balai Arkeologi. Dalam upacara ini juga diserahkan Penghargaan Satya Lancana Karya Satya untuk 24 ASN LPMP Kalsel dan 6 ASN dari BP PAUD Dikmas.
Setelah upacara, diadakan Ramah Tamah seluruh karyawan yang diikuti pembagian hadiah untuk seluruh lomba yang diselenggarakan sebelumnya. lsm
Hasil Lomba Peringatan HUT RI ke-74 Tahun 2019
Jenis Lomba
Juara 1
Juara 2
Juara 3
Bulutangkis Ganda Putra
Nuryanto/Hagi Ismail
Abdul Rasid/Ahmad Gafuri
Syahruddinnoor/Arif Sri Wiyana
Bulutangkis Ganda Putri
Ella Agustina
/Rahmiaty
Nurul Amini/Een Marliani
Ratnawati/Lis Maulina
Tenis Meja Ganda Putra
Saipurrahman
/Zainurrahmi
Djulfiani Ishak/ M. Yusuf
Sucipto/ Huryin
Tenis Meja Ganda Putri

Ciriyani/Tumijem

Farida/Een Marliani
Ratnawati/Lis Maulina
Lomba Baca UUD 45
Rini Fitriani
Nurul Amini
Ari Kesnawati
Lomba Mengetik Cepat 10 Jari

Fajar Triatma

M. Rafsanjani

Lis Maulina
Lomba Nyanyi Putri
Farida
Mila Rismiaty
Mursyidah
Lomba Nyanyi Putra




Banjarbaru, ditulis 21 Februari 2020
Kunjungi, tonton, like, komen, dan subribe juga di channel youtube
Follow Instagram, FB, Twitter, Wattpad, Inspirasi, dan Plukme

Kepsek Banjarbaru Antusias Daftar Sekolah Penggerak

Para kepala sekolah di Banjarbaru antusias mendaftar Program Sekolah Penggerak (PSP). Antusiasme ini terlihat di Aula Pangeran Antasari, Lem...