Monday, October 8, 2018

Menguatkan Ketahanan Bahasa Indonesia, Insan Media Disuluh


MARTAPURA – Bertujuan menguatkan ketahanan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa nasional, Balai Bahasa Kalimantan Selatan menggelar ‘Penyuluhan Penggunaan Bahasa Indonesia di Media Massa Se-Kabupaten Banjar’, Kamis (4/10) – Jumat (5/10) di Wisma Tamu Sultan Sulaiman (Guest House), Martapura. Kegiatan ini diikuti sebanyak 37 peserta, yang diundang mewakili instansi termasuk instansi intern, sekolah yang diwakili pengelola mading atau laman, wartawan dari beberapa media serta penulis setempat.
Pemakaian Bahasa Indonesia dalam media massa begitu pesat dan menarik perhatian, ungkap Kepala Balai Bahasa Kalsel, Drs. Imam Budi Utomo, M.Hum, saat membuka kegiatan ini. Sebagai sarana informasi yang banyak diakses oleh masyarakat, media massa memiliki peranan untuk mendukung pelaksanaan sosialisasi penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar kepada masyarakat. Apalagi efek dari penggunaan penggunaan Bahasa Indonesia melalui media cetak, daring, dan elektronik memiliki daya jangkau luas terhdap masyarakat.
“Acara ini sebagai lanjutan dari 2 acara sebelumnya, yakni ‘Kajian Bahasa di Media Massa di Lembaga Pendidikan Kabupaten Banjar dan ‘Kegiatan Diskusi Terpumpun Kebijakan Pemakaian, Pengawasan dan Pengendalian Penggunaan Bahasa Media Massa Se-Kabupaten Banjar’,” katanya.
Hal ini dikarenakan, lanjutnya, media massa memiliki peranan yang sangat penting dalam pengembangan dan pembinaan Bahasa Indonesia. Di masa kini, media massa dipandang sebagai salah satu sarana yang efektif dalam mempengaruhi sikap dan perilaku manusia, baik yang ke arah positif, maupun ke arah yang negative, termasuk dalam mempengaruhi sikap berbahasa.

“Pembinaan Bahasa Indonesia melalui media massa dapat berwujud pembinaan sikap dan kemampuan penyebaran hadil pengembangan Bahasa seperti pembakuan ejaan dan tata Bahasa, pemekaran kosakata, dan pembentukan istilah-istilah baru,” ujar Imam.
Untuk memperkaya khazanah Bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam berbagai liputan media, paparnya, sangat diperluka kerja sama dari berbagai pihak untuk mendorong insan media massa secara sungguh-sungguh menggunakan media massa yang mereka kelola menjadi ajang pendidikan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
“Oleh karena itu, mereka yang diundang di sini, diharapkan, sungguh-sungguh memenuhi kaidah-kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar,” tandasnya.

Penyuluhan ini, selain diisi Imam sebagai narasumber, juga ada Drs Saefuddin, M.Pd, dan Derri Risriana, S.S untuk materi-materi berupa ; ‘Pengenalan Materi’, ‘Ejaan’, ‘Bentuk dan Pilihan Kata’, dan ‘Kalimat’. Selama penyuluhan, peserta diberikan beberapa soal Bahasa Indonesia untuk ‘Pendalaman Materu dan Evaluasi.’ lsm

Cahaya Berpijar di Bumi Banjar (Bagian 1)


SENJA di muara Sungai Barito selalu tampak indah. Sang bagaskara yang kelelahan sedikit demi sedikit menyembunyikan diri di balik ufuk barat. Cahaya kuning emas melukis semburat di langit sekitarnya, menerpa atap rumah penduduk di pinggiran sungai yang terbuat dari daun rumbia. Sementara perca jingga berhamburan, menghiasi permukaan sungai sehingga tampak berkilau keemasan.
Kenanga tak pernah bosan menikmati lukisan alam yang demikian memukau itu. Hampir setiap senja, dia datang ke muara Sungai Barito. Terkadang dia berjukung dari Sungai Kuin --- tempat rumah palimasan yang dia tinggali sekeluarga berdiri. Perlahan dia mengayuh dayung, menuju muara Barito. Kemudian bertahan sejenak saat mentari mulai ditelan harison. Menikmati warna jingga yang bertebaran, di langit, sungai, dan juga di sela-sela tiang kapal yang banyak berlabuh di muara Barito.
Namun, sekarang Kenanga hanya duduk di pinggiran tumpakan kecil. Memandang dermaga pelabuhan yang mengikat beberapa kapal. Meresapi hembusan angin sore yang mengundang senja agar cepat datang. Memandangi aktifitas sepanjang pinggir sungai yang sibuk menyambut datangnya malam dengan membersihkan badan, setelah seharian bergelut dengan peluh dan kotoran.
Beberapa lelaki turun dari geladak kapal menggunakan tangga mendekati permukaan sungai. Mereka hanya bercelana pendek. Tubuh yang berwarna tembaga terlihat gempal. Mereka mandi. Sebagian ada yang langsung terjun ke sungai dan berenang di sekitar kapal mereka tertambat. Ada yang hanya duduk di ujung tangga sambil mengguyur badan dengan ciduk batok kelapa.
Mereka adalah para pelaut. Sebagian besar kapal yang berlabuh di Muara Barito datang dari daerah lain. Ada yang dari Pulau Jawa, Sulawesi, Sumatera, dan beberapa pulau lainnya. Mereka melakukan aktifitas perniagaan, datang membawa barang hasil daerahnya, kemudian pulang membawa hasil dari daerah lain.
Satu dua orang lelaki itu melambai ke arahnya. Kenanga menjawab dengan lambaian pula. Kebetulan, dia mengenal mereka. Kenanga senang berkenalan dengan pelaut dari daerah lain. Dia suka mendengar cerita tentang daerah asal mereka. Dia pun ingin bisa berkunjung ke sana. Keinginan yang mustahil bisa terpenuhi, karena Ayah tidak akan mengizinkannya.
Ingat Ayahnya, Kenanga kembali terngiang percakapan keluarganya pagi tadi.
“Kami memutuskan minta bantuan ke Demak,” ujar Ayah sambil menyantap singkong rebus dan secangkir kopi yang dihidangkan Uma sebagai sarapan.
Tiga kakak lelakinya yang duduk bersila di atas tikar mengelilingi hidangan serta Kenanga dan Uma sama-sama menatap Ayah, menunggu lanjutan cerita. Ayah --- Ragapati, adalah pembantu Patih Masih, penguasa Bandar --- pelabuhan yang berlokasi di Muara Sungai Barito. Itulah sebabnya pelabuhan Sungai Barito ini dinamakan Bandar Masih. Semula hanya sebuah kampung kecil yang akhirnya berkembang menjadi kota pelabuhan.
Kisah Ayah tentang perkembangan politik di daerah mereka memang menarik. Terutama setelah beberapa waktu lalu dia membawa kabar yang cukup mengejutkan.
“Pemuda itu ternyata Pangeran Samudera --- pewaris tahta Negara Dipa. Saat Pamannya --- Arya Temenggung mengambil kesempatan setelah meninggalnya Raja Sukarama sementara pewarisnya Pangeran Samudera belum dewasa dengan merebut kekuasaan. Ternyata dia dan beberapa pengikut setianya berhasil melarikan diri,” cerita Ayah setelah beberapa hari sebelumnya mendadak dipanggil Patih Masih untuk sebuah musyawarah penting.
Kenanga mengenal pemuda yang dimaksud Ayahnya. Kebetulan dia pernah bertemu. Saat itu --- seperti biasa, dia asyik berjalan-jalan di sekitar pelabuhan. Bercengkerama dengan beberapa pelaut yang memang mengenalnya sebagai putra Ragapati --- pembantu kepercayaan Patih Masih. Mereka menghormati dan segan padanya.
Mereka tidak tahu sesungguhnya Kenanga adalah wanita, karena dia selalu memakai pakaian pria. Dia merasa tidak nyaman dan tidak leluasa dengan mengenakan pakaian para gadis umumnya. Dia lebih suka tampil sebagaimana kakak-kakaknya. Lagipula, Ayah tak pernah membeda anak-anaknya. Dia juga mendapatkan didikan dan latihan sebagaimana ketiga kakak lelakinya, termasuk latihan bela diri dan ilmu keprajuritan.
Pemuda itu juga sama terkecohnya. Merasa mereka sebaya, dia menghampiri Kenanga. Dia mengenalkan namanya dengan menanggalkan gelar kebangsawanan. Dia bertanya di mana bisa mendapatkan perlengkapan menangkap ikan yang harganya miring.
Kenanga mengenalkan diri dengan nama Kenang--- perpendekan nama indah Kenangasari yang diberikan Umanya. Dia mulanya merasa heran, karena penampilan pemuda itu tidak seperti nelayan kebanyakan. Meskipun badannya tinggi tegap sebagaimana umumnya nelayan yang pekerja keras, namun kulitnya bersih dan terang. Selain itu, wajahnya juga tampan. Matanya bulat tajam. Alisnya tebal. Hidungnya tinggi. Rahangnya kokoh. Ditambah lagi, tutur bahasanya halus, dan gaya bicaranya sangat sopan. Tampak jelas dia dari kalangan terdidik.
Namun keheranannya tertepis dengan sendirinya melihat pemuda itu tanpa canggung menyiapkan kapal yang baru dibeli berikut lunta dan perlengkapan nelayan lainnya. Gerakannya gesit dan trampil, tanda dia sudah terbiasa.
Ternyata, dugaan Kenanga sama sekali tidak meleset. Pemuda itu bukan orang biasa. Dia keturunan raja yang terusir dari tahta.
“Setelah Patih Masih bermusyawarah dengan Patih Kuin dan Patih Balitung, akhirnya mereka memutuskan untuk mengangkat Pangeran Samudera sebagai raja. Daerah kekuasaannya meliputi Bandar Masih, Kuin, dan Balitung--- dinamakan daerah Banjar. Ketiga patih akan terus mendampingi Pangeran Samudera mengelola Banjar. Jadi, mulai sekarang, kita punya seorang raja. Sebagai istananya, Patih Kuin merelakan Rumah Baanjungnya untuk ditinggali Pangeran Samudera. Dari sanalah pemerintahan akan dijalankan,” ujar Ayah penuh semangat.
Berdirinya Banjar dengan Pangeran Samudera sebagai pucuk pimpinan disambut antusias penduduk ketiga daerah. Sejak itu, denyut kehidupan di daerah tersebut terasa berbeda. Bila mulanya ketiga daerah ini bergerak sendiri-sendiri dengan pimpinannya masing-masing, sekarang mereka bersatu dalam kebersamaan.
Semula, sebagian besar bumi Kalimantan di bagian selatan, termasuk ketiga wilayah ini adalah bagian dari kerajaan Hindu Negara Dipa. Dahulunya, kerajaan ini bernama Negara Daha, dan pusat pemerintahannya terletak di daerah Margasari. Namun, seiring dengan pergantian kekuasaan, kota raja pun sering berpindah-pindah. Terakhir, saat Negara Dipa direbut Arya Temenggung, pemerintahan dipindah ke daerah Muara Bahan.
Ketiga daerah ini, meski mengakui sebagai bagian dari Negara Dipa, namun para pemimpinnya yang tangguh, mengelola sendiri daerahnya. Bandar Masih semakin berkembang menjadi kota pelabuhan yang banyak disinggahi kapal-kapal besar dari daerah lain, membuat kota pelabuhan ini semakin terbuka dan maju. Demikian juga dua daerah di sekitarnya, Kuin dan Balitung, yang punya masing-masing memiliki sungai besar yang punya akses langsung ke pelabuhan, ikut merasakan dampak kemajuan yang bergulir pesat.
Ketika ketiga daerah mulai bersatu dibawah pimpinan raja yang baru diangkat, kerajaan baru ini semakin maju. Pelabuhan mulai ditata dengan peraturan kerajaan. Perniagaan semakin terbuka. Kemakmuran masyarakat meningkat. Kesejahteraan menjadi gula yang menarik pada pendatang dari daerah pedalaman untuk mengadu nasib di daerah pesisir pelabuhan.
Pesatnya kemajuan Banjar ternyata memancing ketakutan dan kekhawatiran para petinggi Negara Dipa di Muara Bahan. Terlebih setelah Arya Temenggung mengetahui, yang diangkat menjadi raja adalah Pangeran Samudera, keponakan yang telah dia rampas tahtanya. Bila dibiarkan terus besar, bukan tidak mungkin Pangeran Samudera menggunakan kekuasaannya untuk membalas dendam padanya.
Atas pemikiran itulah, Arya Temenggung kemudian mengirim bala tentaranya untuk memerangi Banjar. Daerah yang semula makmur sentosa, mendadak bersiaga perang. Benteng pertahanan berupa jejeran kayu galam berujung runcing dibangun di Sungai Kuin, untuk menahan lajunya gempuran pasukan Negara Dipa.
Namun bagaimanapun saktinya Patih Masih, Patih Kuin, Patih Balitung, dan sejumlah pembantu setia Pangeran Samudera yang lain, digempur terus-terusan oleh pasukan perang  terlatih, membuat mereka akhirnya kewalahan juga. Pasalnya, selama ini mereka hanya berkonsentrasi memajukan pelabuhan dan perniagaan, sama sekali tidak ada persiapan untuk menghadapi perang besar kecuali sesaat setelah mendengar laporan penyerangan dari penduduk desa Anjir yang letaknya berbatasan dengan Muara Bahan.
Para petinggi dan pembantu setia Pangeran Samudera berunding. Ayah sebagai salah satu andalan Patih Masih juga ikut bermusyawarah. Baru tadi pagi dia menyampaikan hasilnya kepada keluarga. Pemberitahuan bahwa dia akan ikut rombongan utusan ke Demak untuk minta bantuan.
“Ayah ikut ke Demak?” tanya  Indrapura --- kakak ketiga Kenanga.
“Ya. Gentanata juga ikut. Sementara kau dan Argapati tetap di sini, membantu pertahanan selama kami tinggalkan,” tegas Ayah.
“Apa Demak mau membantu kita?” tanya Uma sangsi.
“Mudahan mau. Bukankah nenek moyang Pangeran Samudera juga dari tanah Jawa?”
Seketika Kenanga ingat cerita yang pernah dikisahkan Neneknya. Konon raja pertama Negara Daha adalah pangeran dari Kerajaan Majapahit --- Suryanata,  menikah dengan Putri Junjung Buih --- putri yang tiba-tiba muncul dari buih sungai Barito sebagai jawaban tapa Lambung Mangkurat, pendiri kerajaan Negara Daha yang juga berasal dari tanah Jawa.
“Iya, tapi itu dulu. Sekarang kabarnya berbeda. Bahkan katanya Demak menganut kepercayaan yang berbeda dengan kita. Agama yang disebut Islam,” tambah Argapati.
Kenanga tercenung. Tiba-tiba saja dia teringat Malik --- seorang pelaut kenalannya. Dia juga dari Jawa, dan juga mengaku menganut Agama Islam. Saat itu Kenanga sangat tertarik bertanya tentang agamanya. Pasalnya, Islam hanya mengakui satu Tuhan.
Sejak kecil, Kenanga memang sering mangkir bila diajak ke kuil. Dia tidak suka menyembah-nyembah tiga patung dewa yang ada di sana. Ayahnya lebih suka memuja Syiwa, sementara Uma lebih sering menyembahyangi Brahma. Guru silat keluarganya --- Datuk Ganggapati, menyembah Wisnu. Ini membingungkan Kenanga. Apa ketiga dewa itu tidak saling iri dan kemudian berebut penyembah? Meski para orangtua itu menjelaskan bahwa dewa trimurti hakekatnya adalah satu, namun akalnya tak mampu menerima. Bagaimana mungkin ada Dewa perusak dan ada Dewa Pemelihara? Bukankah tujuan keduanya bertentangan? Bagaimana bisa satu?
Ketidakmengertian membuat Kenanga sering melakukan kenakalan-kenakalan kecil. Dia sering mencuri sesajen yang setiap malam tertentu disediakan Umanya. Dia juga selalu menolak bisa disuruh melakukan ritual yang menurutnya tidak masuk akal. Kenanga bahkan tidak mau menerima hadiah senjata sakti yang diberikan padanya karena senjata-senjata tersebut menuntut ritual yang dianggapnya akan membebaninya.
“Keris kan senjata untuk dimanfaatkan pemiliknya. Bagaimana mungkin keris bisa memanfaatkan pemilik untuk memenuhi tuntutannya; mandi kembang tiap malam tertentu dan minta sesajen sesuai keinginan? Yang bodoh itu siapa?” ucap Kenanga yang langsung disambut kemarahan Ayah dan kakak-kakaknya.
Namun Kenanga memang keras kepala. Tak ada yang bisa memaksanya melakukan sesuatu yang tidak diinginkannya. Sebaliknya, bila dia menginginkan sesuatu, tak ada pula yang bisa mencegahnya. Dan sekarang, dia ingin ikut ke Demak.
Demak mengingatkannya kepada Malik, sahabat pelautnya. Karena keduanya memiliki satu hal yang sama, Islam. Sebuah kata yang menurut Kenanga punya daya tarik kuat.
“Islam hanya percaya satu Tuhan, yang menguasai seluruh alam semesta--- yang menghidupkan dan mematikan, yang menciptakan ataupun menghancurkan, yang menurunkan gerimis sekaligus meniupkan badai, pokoknya segala sesuatu yang terjadi di alam.”
“Bagaimana mungkin stupa bisa berbuat seperti itu?”
“Tuhan orang Islam tidak berbentuk stupa.”
“Lalu? Berupa pohon besar? Atau api?” Kenanga bertanya karena pernah melihat penduduk pedalaman melakukan ritual untuk memuja benda-benda tersebut.
Malik menggeleng. “Tidak. Tidak semua itu.”
“Lalu?”
“Tuhan kami tidak sama dengan makhluk atau ciptaan-Nya yang lain. Bagaimana mungkin Sang Pencipta sama dengan hasil ciptaan-Nya?”
“Jadi?”
“Jadi, Dia adalah Dzat yang tak mungkin diungkapkan dengan kata-kata, tak mungkin terpecahkan oleh akal, tak mungkin teraba oleh rasa, tapi Dia benar-benar ada. Kita tahu Dia ada karena memang terbukti Dia ada. Karena Dia seringkali membuktikan keberadaan-Nya.”
Kening Kenanga berkerut. Sebenarnya banyak lagi yang ingin diketahuinya. Entah kenapa, dia merasa telah menemukan setitik cahaya. Sayang, ketika itu Malik harus kembali berlayar, meninggalkan sejuta tanda tanya besar yang masih belum terjawab tentang Dzat yang menurut Malik adalah segalanya. Dan setitik cahaya itu pun perlahan bagai bara yang mulai meredup.
Tapi, saat mendengar Demak, Kenanga bagai kembali melihat seberkas asa. Ada kemungkinan dia akan memperoleh jawaban dari sejuta tanya yang selama ini dipendamnya. Bukan tidak mungkin di Demak, pencariannya terhadap Dzat yang menggugah rasa penasaran itu akan berujung. Tapi, bagaimana mungkin dia bisa sampai ke sana?
Kenanga kembali tercenung, memandang senja yang kian hilang ditelan cakrawala. Mungkinkah jawaban pertanyaannya juga masih tersembunyi di balik sana? Dia harus mengejar setitik cahaya yang masih tersisa  sebelum benar-benar lenyap tenggelam dalam kelam.
*** Bersanbung ke bagian berikutnya, ya...! ***

Saturday, October 6, 2018

Jangan Nodai Kenangan Indah Kami (Bagian 5 - Tamat)


Aku tertegun memandang puing-puing, sisa bangunan Mitra Plaza yang terbakar. Sebagian sudah habis terbakar, terutama lantai-lantai atas. Sedang lantai dasar, walaupun tidak habis, keadaannya rusak berat.
Hari ini masyarakat sudah diperbolehkan untuk lewat jalan depan bangunan ini. Kemarin dan kemarinnya, jalan masih ditutup oleh petugas keamanan dengan persenjataan lengkap. Mereka berjaga agar penyidikan dan pencarian korban di lokasi itu tidak dikacaukan.
Sehari sebelum kerusuhan Aku dan Fadli masih sempat jalan-jalan dari lantai ke lantai, cuci mata di pertokoan. Gedung ini masih tampak megah ketika itu, sama sekali tidak ada tanda-tanda akan hancur lebur seperti ini. Sulit bias dipercaya, gedung yang dibangun dengan susah paying, memakan dana, tnaga dan waktu yang tidak sedikit, akhirnya musnah dengan sekejap mata.
Tuhan, betapa teganya mereka yang menghancurkan ini semua. Tidakkah mereka memikirkan sebelumnya akibat dari tindakan yang mereka lakukan? Mereka telah merenggut banyak hal yang mungkin tidak terhitung dengan angka, ketenangan, kedamaian, kenangan manis, harapan, bahkan cinta.
Seperti aku yang kehilangan orang yang paling kukasihi, Fadli. Aku dan Bu Niah tak menemukannya di rumah sakit ataupun kantor polisi. Satu-satunya kemungkinan adalah Fadli termasuk salah satu korban yang terbakar di Mitra Plaza. Apalagi seorang teman Fadli melihat dia sekitar gedung malam itu.
Bu Niah menggeleng keras mendengar keterangan itu.
“Tidak mungkin. Tidak mungkin Fadli masuk ke dalam Mitra yang terbakar. Untuk apa? Untuk menjarah barang-barang? Tidak! Anakku tidak seperti itu!”
Aku mengangguk, menyetujui pendapat Bu Niah. Orang lain mungkin benar, nekat masuk ke gedung yang terbakar dengan niat menjarah barang-barang yang ada. Tapi Fadli? Mustahil dia mampu melakukan hal itu. Walaupun hidup keluarganya cukup sulit, mereka tak pernah mengeluh. Apapun yang mereka dapatkan, meskipun sedikit, akan diterima dengan penuh syukur. Lalu untuk apa dia menjarah barang-barang took dengan mempertaruhkan nyawa?
“Mulanya dia memang tidak berminat, Bu. Tapi siapa tahu melihat orang-orang yang rame-rame menjarah barang, dia jadi kepengen ikutan. Bayangkan saja, barang-barang yang semula hanya bias kita lihat di etalase namun tak bias kita miliki karena tidak mampu membeli, tiba-tiba saja ada kesempatan untuk memilikinya tana harus membeli. Sebuah kesempatan yang jarang terjadi bukan?”
Bu Niah masih menggeleng. Tapi aku langsung tertegun. Kata-kata teman Fadli membuka kembali ingatanku pada peristiwa sebelum terjadinya kerusuhan, ketika aku dan Fadli jalan-jalan ke Mitra Plaza.Aku memandang sebuah arloji cantik dengan penuh minat, dan Fadli mengetahui itu. Dia ingin sekali bias memberikan jam itu untukku.
Mungkinkah keinginan untuk membahagiakanku yang membuat Fadli nekat masuk ke gedung yang terbakar dan akhirnya merenggut nyawanya? Ya, Tuhan! Begitukah kejadiannya?
Aku tak mampu menceritakan hal ini pada Bu Niah. Beliau pasti sangat sedih mendengarnya.
Aku menggeleng ketika Bu Niah meminta pendapatku tentang usul teman Fadli mendatangi tempat mayat-mayat korban kerusuhan dan mencoba mengidentifikasi, siapa tahu kami mengenali cirri Fadli di antara mayat-mayat itu.
Sungguh, aku tidak berani menerima kenyataan pahit yang mungkin akan kami dapati. Bila memang aku harus kehilangan Fadli, Tuhan, aku rela. Tapi jangan rusak kenangan manisku tentang dia dengan kenyataan yang amat menyakitkan! Jangan nodai kenangan indah kami akan dia dengan kenyatan yang sama sekali di luar dugaan. Bagaimanapun, dia adalah kebanggan kami, orang yang sangat kami kasihi.
“Ibu bias mengerti mengapa kamu menolak, Milah,” ucap Bu Niah dengan tersendat. “Biar ibu yang berangkat sendiri. Ibu peru tahu nasib anak ibu yang sesungguhnya. Dan ibu takkan mengatakan apapun hasilnya kepadamu.”
Bu Niah memang tidak perlu mengatakan apapun kepadaku untuk memberitahu kebenarannya. Tak perlu. Tanpa berkata sepatahpun. Bu Niah telah memberitahuku segalanya. Cukup dengan gambaran yang ada di wajahnya.
Aku mengerjap. Gambar puing-puing Mitra Plaza mengabur dari pandanganku. Kegelapan menyergapku dalam dekapannya. Sunyi dan sepi.


*** TAMAT ***
Dimuat di Anita Cemerlang Vol. 31 tgl. 20-30 Nopember 1997
Terimakasih sudah membaca... Thank you for reading....
Silakan baca juga cerita lainnya, ya... ^_^


Friday, October 5, 2018

Jangan Nodai Kenangan Indah Kami (Bagian 4)


KULIHATIbu Fadli melangkah tergopoh-gopoh menghampiriku. Aku segera mencuci bersih tanganku yang berlumuran busa detergen. Wajahnya yang kusut dan matanya yang menyimpan kecemasan memberitahuku adanya masalah yang serius.
“Fadli tidak pulang, Milah,” lapor wanita setengah baya itu dengan suara serak. “Apa kamu melihatnya?”
Aku tersengat mendengar berita yang dibawa Ibu Niah, Ibu Fadli itu. Saat ini, tiga hari setelah kerusuhan yang terjadi banyak orang-orang yang dikabarkan hilang. Bagi mereka yang keluarganya tidak pulang-pulang ke rumah patut merasa cemas, sebab ratusan orang ditemukan meninggal dalam gedung yang terbakar akibat kerusuhan, belum diketahui identitasnya.
“Sej… sejak kapan?” tanyaku tanpa bias menyembunyikan kegugupan dalam suaraku.
“Sejak malam itu. Kira-kira jam sepuluh malam dia ke luar rumah. Katanya ingin melihat-lihat keadaan. SUdah ibu larang, tapi dia ngotot. Paling sudah aman, begitu dia bilang. Lalu dia pergi. “ Bu Niah terisak. “Seandainya ibu berkeras untuk melarangnya waktu itu. Seharusnya ibu cegah dia.”
Aku serba salah. Ingin menghibur wanita yang melahirkan orang yang paling kukasihi itu, tapi aku sendiri belum sanggup untuk mengatasi kecemasan yang melanda hatiku.
“Ibu sudah cari ke mana saja?”
“Ke rumah teman-temannya yang ibu kenal. Tapi mereka tidak ada yang tahu di mana Fadli berada. Mereka menyarankan agar ibu mencari di rumah-rumah sakit. Siapa tahu Fadli termasuk korban yang luka. Dan kalo tidak ada, mereka sarankan ibu cari di kantor polisi. Barangkali dia ditangkap. Tapi bagaimana mungkin? Dia kan tidak ikut-ikutan merusuh. Kenapa dia mesti ditangkap?” Tangis Bu Niah makin keras.
Aku memejamkan mata, berusaha menguatkan hatiku sendiri. Kecemasan itu tidak boleh membuatku kehilangan pikiran sehat. Kasihan Ibu Niah! KAsihan Fadli! Aku harus berbuat sesuatu untuk membantu mereka.
“Tunggu sebentar, Bu! Kita akan sama-sama pergi mencarinya. Aku pamit pada ibuku setelah menceritakan masalahnya. Kuminta Itah untuk membereskan cucianku yang masih sebakul lagi. Dalam benakku sudah kurancang tempat mana saja yang akan kudatangi untuk mencari Fadli.

*** Bersambung ke Bagian Berikutnya, ya...! ***

Bila Cinta Telah Datang (Bagian 4 - Tamat)


“KITA pulang, Di?”
“Pulang?” Dian membelalakan matanya yang bagus.
“Iya, emang kita mau nginap di sini?”
“Nggak! Kita ngucapin selamat dulu pada mereka.”
“Ap… apa?”
Dian tertawa melihat wajah Ully yang berubah pucat. Dia menggeleng-gelengkan kepala sambil menepuk bahu Ully.
“Kenapa, heh? Kamu nggak mau? Takut?”
Ully terdiam sesaat. “Baik, pergilah kau! Aku tunggu di sini.”
“Kamu benar-benar tidak ikut?”
Ully menggeleng.
“Kok, gitu? Mereka sudah main begitu bagus, mengeluarkan segala kemmapuan yang ada. Kasih selamat, kenapa, sih?”
“Dian, aku …”
“Ya, sudah.” Dian mengibaskan tangannya. “Aku pergi dulu.”
Dian berlari-lari kecil, menyusul teman-temannya yang sudah menghilang duluan.
Ully menghela nafas. Dilemparkannya pandangan ke papan skor yang masih belum diubah panitia. Kemenangan untuk sekolahnya. Angka lawan ketinggalan jauh.
Sebagian dari angka itu adalah hasil usahamu, Ar, bisik Ully sambil tersenyum tipis. Kamu memang hebat. Aku kagum. Sebenarnya aku ingin sekali mengucapkan selamat padamu. Tapi… ah!
Ully menghempaskan pandangannya ke rerumputan. Menunggu kedatangan Dian dengan sabar.
***
“EH, Ul, masih di sini?”
Ully mengangkat wajah. Tampak Angga menatapnya heran.
“Iya, nunggu Dian. Kok, lama benar, ya?” sahut Ully sambil bangkit dari duduknya.
“Lho, bukankah mereka sudah pulang semua?”
“Apa?” Ully terperanjat.
“Heeh. Dian tadi dengan Nita. Katanya, ngantar Nita dulu. Lalu yang lain juga menyusul,” jelas Angga.
Ully merasakan seluruh persendiannya lemas. Dilihatnya lapangan parker, memang sudah kosong. Tak ada motor Dian di sana. Juga motor teman-temannya yang lain.
“Lalu aku pulang dengan siapa?” keluhnya putus asa. “Apa Dian akan balik lagi menjemputku?”
“Entahlah. Tapi aku sangsi.”
Ully juga menyangsikannya. Senja sudah mulai turun. Orang-orang memang masih ramai, menonton pertandingan berikutnya. Tapi kalau menunggu sendirian, mana sanggup? Rumahnya lumayan jauh lagi.
“Sorry, Ul, aku nggak bisa nolong! Soalnya, aku juga harus ngantar Mala.”
Ully tersenyum masam. “Tak apa, Ang.”
“Kalau begitu, aku duluan! Tuh, Mala sudah menunggu.”
Ully mengangguk pasrah. Angga yang hampir melangkah, tiba-tiba mengurungkan niatnya.
“Eh, itu Arga belum pulang, Ul. Mungkin kau bisa minta tolong padanya.”
Belum habis lagi kekagetan Ully karena mendengar nama itu, Angga sudah berteriak memanggilnya. Ully makin cemas ketika merasakan Arga mendekati mereka.
“Tolongin, Ar, ada teman kita yang tercecer, nih! Kamu antar pulang, ya! Entar maminya marah.”
Arga tidak menjawab. Hanya tawanya yang terdengar. Sedang Angga buru-buru menghampiru Mala yang sudah mulai kesal menunggu.
“Mau pulang sekarang?” tanya Arga setelah motor Angga dan Mala menghilang dari pandangan.
Ully tidak berani menatapnya.
“Tidak, terima kasih! Aku tidak mau merepotkanmu. Aku bisa pulang sendiri.
Ully segera berlari meninggalkan Arga yang tercengang. Dalam hati tidak ada habisnya dia menyumpahi Dian yang telah meninggalkannya sendiri. Teman kok tega begitu?
Dengan menguatkan hati, Ully melangkah menyusuri kompleks Gelanggang Remaja. Semoga di luar sana ada becak, doanya. Sementara cahaya merah mulai menurun bersembunyi di batas cakrawala.
Tiba-tiba langkah Ully terhenti. Arga! Cowok itu menghalangi langkahnya dengan motornya.
“Naiklah!” katanya tegas.
Ully menggeleng. Hatinya mulai terbakar. Mungkinkah ini rencana mereka? Dan Dian pasti terlibat pula di dalamnya.
“Aku bisa pulang sendiri,” balas Ully tak kalah tegas.
“Keras kepala! Tidakkah kau lihat malam sudah mulai turun? Terlalu berbahaya cewek pulang malam sendiri.”
“Itu lebih baik, daripada aku harus mengikuti permainan kalian. Aku tidak sudi.”
Ully meneruskan langkahnya. Nafasnya memburu. Dia ingin cepat keluar dari kompleks, dan menemukan becak atau kendaraan umum. Agar dia cepat sampai di rumah dan terbebas dari permainan yang memuakkan ini.
“Ully!” Arga menarik lengannya.
Ully menatap wajah cowok itu dengan berani. Arga gelagapan.
“Aku tahu, kamu marah. Yah, mungkin ini memang ulah mereka. Tapi sungguh mati, aku tidak tahu. Walau aku yakin pula, mereka melakukan ini untukku. Karena kamu selalu gagal kudekati. Kamu terlalu lihai untuk menghindar. Kenapa? Kau takut padaku?”
Ully membuang pandangannya. Cowok itu berkata jujur. Matanya membenarkan hal itu. Dia memang tidak tahu-menahu.
“Biarlah! Lupakan saja itu! Sekarang kuminta kau tidak menolak untuk kuantar. Karena kalau kau sampai celaka karena kejadian ini, aku tidak akan bisa memaafkan diriku.” Arga menatap lembut. “Ayo!”
Ully tak kuasa menolaknya. Dia mengikuti cowok itu, dan naik boncengan motornya.
“Tapi bolehkah aku tahu dulu, mengapa kamu menghindariku?” tanya Arga memperkecil gasnya.
“Karena aku tidak mau dipermainkan. Aku bukan bola basket.”
“Siapa bilang begitu? Aku sungguh-sungguh.”
“Tapi…”
“Sudahlah! Tak perlu kau kemukakan alasanmu. Aku hanya ingin kau berikan kesempatan padaku untuk membuktikan kalau sungguh-sungguh. Oke?”
Arga menarik gasnya, setelah dilihatnya senyum Ully dari kaca spion. Senyum terindah yang pernah diberikan Ully untuknya. Dan itu berarti pertanda positif.
Arga pun tersenyum. 
*** Tamat ***
Thank you for reading.... Silakan baca juga cerita lainnhya, ya...
Dimuat di Aneka Ria No. 11 1-14 Juni 1992

Thursday, October 4, 2018

Jangan Nodai Kenangan Indah Kami (Bagian 3)


“KAK… Kak Milah!” Itah, adikku memanggilku sambil terengah. “Ada kerusuhan, Kak!” Aku hanya menolehnya sebentar, kemudian meneruskan setrikaanku yang tinggal beberapa lembar lagi. “Di mana?”
“Di mana-mana, Kak.”
Fahiku berlipat mendengar jawabannya. “Di mana-mana?”
“Itulah, Kak. Di setiap sudut kota ii tersebar para perusuh. Mereka semua membawa senjata tajam. Bahkan tak segan untuk melukai penduduk yang tidak menuruti kemauan mereka.”
“Ya, Tuhan!” Kurasakan wajahku langsung pucat pasi. “Ke mana yang lain? Kifli, Rizki, Tifah dan Fahri? Cepat panggil mereka! Cari ! Suruh pulang!”
Itah mengangguk. Dia baru akan pergi ketika aku mencegahnya.
“Tidak usah! Kamu di rumah, jaga ibu! Biar Kak Milah yang mencari mereka,” kataku.
Itah menurut.
Aku bergegas keluar. Kulihat suasana memang tidak seperti biasanya. Ada ketegangan di mana-mana. Di beberapa tempat kulihat orang-orang berbaju sama, lengkap dengan segala atribut dan senjata tajam. Wajah mereka Nampak beringas dan brutal. Pasti merekalah yang dimaksud sebagai perusuh.
Untung aku tidak membiarkan Itah yang pergi. Dia pasti ketakutan melihat keadaan seperti ini. Aku langsung menuju tempat-tempat yang biasa dikunjungi aik-adikku. Dalam hati tak hentinya aku berdoa untuk keselamatan mereka. Ternyata doaku terkabul. Satu-satu aku menemukan mereka, tak kurang suatu apa. Namun di wajah mereka tergambar ketakutan yang amat sangat. Cepat mereka kugiring pulang.
Ketika mencapai rumah, kulihat kepulan asap hitam di beberapa bagian langit. Makin lama kepulan asap itu makin tebal, bahkan berganti warna menjadi merah membara.
“Kebakaran, Kak!” Kata Fahri. “Perusuh membakar beberapa gedung penting.”
Aku membawa adik-adikku masuk ke rumah. Setiap pintu dan jendela kukunci rapat. Namun tak satupun dari kami bias memejamkan mata. Malam itu terasa sungguh mencekam. Padahal di luar hamper semua pemuda kampong berjaga sepanjang malam untuk mengantisipasi segala kemunginan.
Ibu menyuruh kami untuk shalat malam, memohon perlindungan Tuhan.

*** Bersambung ke Bagian Selanjutnya, ya...! ***

Bila Cinta Telah Datang (Bagian 3)


“KITA pulang, Di?”
“Pulang?” Dian membelalakan matanya yang bagus.
“Iya, emang kita mau nginap di sini?”
“Nggak! Kita ngucapin selamat dulu pada mereka.”
“Ap… apa?”
Dian tertawa melihat wajah Ully yang berubah pucat. Dia menggeleng-gelengkan kepala sambil menepuk bahu Ully.
“Kenapa, heh? Kamu nggak mau? Takut?”
Ully terdiam sesaat. “Baik, pergilah kau! Aku tunggu di sini.”
“Kamu benar-benar tidak ikut?”
Ully menggeleng.
“Kok, gitu? Mereka sudah main begitu bagus, mengeluarkan segala kemmapuan yang ada. Kasih selamat, kenapa, sih?”
“Dian, aku …”
“Ya, sudah.” Dian mengibaskan tangannya. “Aku pergi dulu.”
Dian berlari-lari kecil, menyusul teman-temannya yang sudah menghilang duluan.
Ully menghela nafas. Dilemparkannya pandangan ke papan skor yang masih belum diubah panitia. Kemenangan untuk sekolahnya. Angka lawan ketinggalan jauh.
Sebagian dari angka itu adalah hasil usahamu, Ar, bisik Ully sambil tersenyum tipis. Kamu memang hebat. Aku kagum. Sebenarnya aku ingin sekali mengucapkan selamat padamu. Tapi… ah!
Ully menghempaskan pandangannya ke rerumputan. Menunggu kedatangan Dian dengan sabar.
*** Bersambung ke Bagian Berikutnya, ya...! ***

Kepsek Banjarbaru Antusias Daftar Sekolah Penggerak

Para kepala sekolah di Banjarbaru antusias mendaftar Program Sekolah Penggerak (PSP). Antusiasme ini terlihat di Aula Pangeran Antasari, Lem...