Aku tertegun memandang puing-puing, sisa bangunan Mitra Plaza yang terbakar. Sebagian sudah habis terbakar, terutama lantai-lantai atas. Sedang lantai dasar, walaupun tidak habis, keadaannya rusak berat.
Hari ini masyarakat sudah diperbolehkan untuk lewat jalan depan bangunan ini. Kemarin dan kemarinnya, jalan masih ditutup oleh petugas keamanan dengan persenjataan lengkap. Mereka berjaga agar penyidikan dan pencarian korban di lokasi itu tidak dikacaukan.
Sehari sebelum kerusuhan Aku dan Fadli masih sempat jalan-jalan dari lantai ke lantai, cuci mata di pertokoan. Gedung ini masih tampak megah ketika itu, sama sekali tidak ada tanda-tanda akan hancur lebur seperti ini. Sulit bias dipercaya, gedung yang dibangun dengan susah paying, memakan dana, tnaga dan waktu yang tidak sedikit, akhirnya musnah dengan sekejap mata.
Tuhan, betapa teganya mereka yang menghancurkan ini semua. Tidakkah mereka memikirkan sebelumnya akibat dari tindakan yang mereka lakukan? Mereka telah merenggut banyak hal yang mungkin tidak terhitung dengan angka, ketenangan, kedamaian, kenangan manis, harapan, bahkan cinta.
Seperti aku yang kehilangan orang yang paling kukasihi, Fadli. Aku dan Bu Niah tak menemukannya di rumah sakit ataupun kantor polisi. Satu-satunya kemungkinan adalah Fadli termasuk salah satu korban yang terbakar di Mitra Plaza. Apalagi seorang teman Fadli melihat dia sekitar gedung malam itu.
Bu Niah menggeleng keras mendengar keterangan itu.
“Tidak mungkin. Tidak mungkin Fadli masuk ke dalam Mitra yang terbakar. Untuk apa? Untuk menjarah barang-barang? Tidak! Anakku tidak seperti itu!”
Aku mengangguk, menyetujui pendapat Bu Niah. Orang lain mungkin benar, nekat masuk ke gedung yang terbakar dengan niat menjarah barang-barang yang ada. Tapi Fadli? Mustahil dia mampu melakukan hal itu. Walaupun hidup keluarganya cukup sulit, mereka tak pernah mengeluh. Apapun yang mereka dapatkan, meskipun sedikit, akan diterima dengan penuh syukur. Lalu untuk apa dia menjarah barang-barang took dengan mempertaruhkan nyawa?
“Mulanya dia memang tidak berminat, Bu. Tapi siapa tahu melihat orang-orang yang rame-rame menjarah barang, dia jadi kepengen ikutan. Bayangkan saja, barang-barang yang semula hanya bias kita lihat di etalase namun tak bias kita miliki karena tidak mampu membeli, tiba-tiba saja ada kesempatan untuk memilikinya tana harus membeli. Sebuah kesempatan yang jarang terjadi bukan?”
Bu Niah masih menggeleng. Tapi aku langsung tertegun. Kata-kata teman Fadli membuka kembali ingatanku pada peristiwa sebelum terjadinya kerusuhan, ketika aku dan Fadli jalan-jalan ke Mitra Plaza.Aku memandang sebuah arloji cantik dengan penuh minat, dan Fadli mengetahui itu. Dia ingin sekali bias memberikan jam itu untukku.
Mungkinkah keinginan untuk membahagiakanku yang membuat Fadli nekat masuk ke gedung yang terbakar dan akhirnya merenggut nyawanya? Ya, Tuhan! Begitukah kejadiannya?
Aku tak mampu menceritakan hal ini pada Bu Niah. Beliau pasti sangat sedih mendengarnya.
Aku menggeleng ketika Bu Niah meminta pendapatku tentang usul teman Fadli mendatangi tempat mayat-mayat korban kerusuhan dan mencoba mengidentifikasi, siapa tahu kami mengenali cirri Fadli di antara mayat-mayat itu.
Sungguh, aku tidak berani menerima kenyataan pahit yang mungkin akan kami dapati. Bila memang aku harus kehilangan Fadli, Tuhan, aku rela. Tapi jangan rusak kenangan manisku tentang dia dengan kenyataan yang amat menyakitkan! Jangan nodai kenangan indah kami akan dia dengan kenyatan yang sama sekali di luar dugaan. Bagaimanapun, dia adalah kebanggan kami, orang yang sangat kami kasihi.
“Ibu bias mengerti mengapa kamu menolak, Milah,” ucap Bu Niah dengan tersendat. “Biar ibu yang berangkat sendiri. Ibu peru tahu nasib anak ibu yang sesungguhnya. Dan ibu takkan mengatakan apapun hasilnya kepadamu.”
Bu Niah memang tidak perlu mengatakan apapun kepadaku untuk memberitahu kebenarannya. Tak perlu. Tanpa berkata sepatahpun. Bu Niah telah memberitahuku segalanya. Cukup dengan gambaran yang ada di wajahnya.
Aku mengerjap. Gambar puing-puing Mitra Plaza mengabur dari pandanganku. Kegelapan menyergapku dalam dekapannya. Sunyi dan sepi.
*** TAMAT ***
Dimuat di Anita Cemerlang Vol. 31 tgl. 20-30 Nopember 1997
Terimakasih sudah membaca... Thank you for reading....
Silakan baca juga cerita lainnya, ya... ^_^

No comments:
Post a Comment