Tuesday, February 11, 2020

Kisah Sedih di Miracle In Cell No 7


Heboh Film Korea berjudul ‘Miracle In Cell No 7 dibuat ulang versi Indonesia membuat Penulis Jadul penasaran untuk menontonnya. Ternyata film ini cukup mudah ditemukan, karena tercatat sebagai film paling laris dan paling sedih. Maka, nontonlah Penulis Jadul di Youtube.

Tersebutlah Ayah dan Anak, Lee Young Go yang memiliki keterbatasan kecerdasan dan Lee Ye Seung, gadis 7 tahun yang lebih dewasa dari umurnya untuk bisa mengurus mereka berdua. Hidup bahagia meski dengan kesederhanaan.
Lee Ye Seung ingin memiliki tas cantik Sailor Moon, namun menunggu ayahnya menabung gajinya. Tapi tas yang mereka incar sekian lama sudah dibeli Ji Young, putri Komisaris Polisi Ji Young Bu.
Suatu hari, Lee Young Go dituduh membunuh Ji Young karena dendam telah dipukul Komisaris Ji Young Bu. Padahal, waktu itu dia hanya mengikuti Ji Young yang ingin menunjukkan toko yang menjual tas yang sama kemudian berusaha menolongnya ketika Ji Young jatuh.
Tanpa proses penyelidikan dan pengadilan yang adil, Young Go dijebloskan dalam penjara, meninggalkan putrinya Ye Seung sendiri. Young Go yang lugu melakukan apapun yang disuruh karena dijanjikan bisa bertemu Ye Seung.
Di penjara, dia dijebloskan di sel no 7 yang dihuni para penjahat;  So Yang Ho, ketua genk yang buta hurup, Choi Chun Ho, Gang Man Beom, Shin Bong Shik, dan Pak Tua Seo. Semula mereka memperlakukan Young Go dengan buruk. Tapi So Yang Ho diselamatkan Young Go berusaha membalas dengan menyelendupkan Ye Seung ke dalam penjara.
Mereka berhasil menyelundupkan masuk tapi gagal menyelundupkannya ke luar. Pasalnya, penjaga penjara memergoki. Mereka semua dihukum. Tapi kemudian terjadi kerusuhan di penjara dan lagi-lagi Young Go menyelamatkan Kepala Sipir Komandan Choi. Karena merasa heran orang selugu Young Go dituduh membunuh, dia berusaha menyelidiki kembali kasus tersebut.
Meski terdapat berbagai kejanggalan, tetap Young Go dinyatakan bersalah. Karena berhubungan dengan Komisaris Polisi, konspirasi berlanjut meski Young Go didukung banyak saksi yang meringankan. Young Go mengakui kejahatan yang tidak dilakukannya karena demi keselamatan putrinya yang terancam. Karena itulah, vonis memutuskan dia dihukum mati.
Tentu saja hal ini membuat mereka yang mengenal Young Go tidak rela. Mereka merencanakan pelarian Young Go dan Ye Seung. Tapi berhasilkah mereka? Silakan nonton sendiri film bagus yang didukung aktor dan aktris handal Korea ini.

Sutradara : Lee Hwan Kyung
Penulis : Yoo Young Ah, Kim Yong Shik, Kim Hwang Sung, Lee Hwan Kyung
Pemain :
Ryu Seong Ryong: Lee Young Go
Kal So Won : Lee Ye Seung (muda), Park Shin Hye : Lee Ye Seung (dewasa)
Oh Dal So ; So Yang Ho
Park Won Sang : Choi Chun Ho
Kim Jung Tae : Gang Man Beom
Jung Man Shik : Shin Bong Shik
Kim Ki Cheon : Old Man Seo
Park Kil So : Komandan Choi
Jo Jae Yoon : Petugas Kim
Jo Duk Hyun : Komisaris Polisi Ji Young Bo
Sumber foto
https://mydramalist.com/4517-miracle-in-cell-no.-7
Banjarbaru, 11 Februari 2020

Kunjungi, tonton, like, komen, dan subribe juga di channel youtube
Follo Instagram, FB, Twitter, Wattpad, Inspirasi, dan Plukme

Monday, February 10, 2020

Jurnalis, Kerja Orang Gila


 Selamat Hari Pers Nasional. Ingat momen ini karena banyak spanduk bertebaran. Pasalnya, orang nomor 1 negeri ini ikut hadir dalam rangkaian peringatan Hari Pers Nasional Tahun 2020 yang dilaksanakan tanggal 5-9 Februari lalu. Momen ini menginggatkan lagi Penulis Jadul ketika masih berkecimpung di dunia tanpa koma ini puluhan tahun lalu.

Pekerjaan orang gila, demikian istilah yang diberikan salah seorang wartawan senior, Rosihan Anwar tentang pekerjaan seorang jurnalis. Pasalnya, jam kerja seorang jurnalis itu selama 24 jam 7 hari. Tak ada istilah libur.
Semula ketika diberitahukan pertama kali, Penulis menganggapnya lebay kalau istilah sekarang. Terlalu hiperbola atau melebih-lebihkan. Pasalnya, digambarkan saat Penulis Jadul training sebelum bekerja sebagai jurnalis atau wartawan di Banjarmasin Post Group, perusahaan media terbesar pada saat itu.
Sebelumnya, Penulis Jadul mengikuti proses perekrutan sebagai wartawan karena ikut melamar lowongan kerja sebagai anggota redakso yang ditawarkan di Banjarmasin Post. Meski kualifikasi pendidikan yang diminta adalah Sarjana (S1), tapi Penulis tetap nekat memasukkan lamaran dengan Ijazah D3, karena merasa punya kemampuan menulis.
Alhamdulillah, tetap dipanggil mengikuti seleksi sebagaimana puluhan peserta lainnya.  Kalau tidak salah saat itu Bulan Agustus 1999. Mulanya seleksi tertulis. Materinya pengetahuan umum, dan psikotes juga. Ada juga tes mengarang bebas. Kemudian tes Bahasa Inggris, menerjemahkan Bahasa Inggris ke dalam Bahasa Indonesia. Kalau disuruh mengarang bebas, berlembar-lembar tidak masalah bagi penulis, karena sudah biasa. Kemudian menerjemah, juga tidak masalah karena Penulis memiliki ijazah Bahasa Inggris. Terakhir, saat wawancara, dengan bangga dan optimis, Penulis memperlihatkan kliping cerpen yang dimuat di majalah.
Singkat cerita, Penulis Jadul dinyatakan lulus, dan sebelum bekerja harus mengikuti pelatihan Jurnalistik selama 2 minggu. Kalau tidak salah, ketika itu pesertanya sekitar 20 orang. Pelatihnya, selain dari Banjarmasin Post sendiri, juga ada dari luar, karena Banjarmasin Post sudah masuk dalam grup nasional Kompas, salah satunya adalah Yusran Pare dan 1 lagi lupa namanya, tapi beliau dari Harian Bernas, Semarang yang juga merupakan anggota grup Kompas.
Selain materi dari para pelaku jurnalisme, kami juga diberikan modul yang berisi materi dan soal-soal yang harus kami selesaikan. Meskipun waktu itu sudah ada komputer, tapi kami diwajibkan menyelesaikan soal-soal tersebut menggunakan mesin tik kuno yang bentuknya besar dan berat. Bila salah, kami tidak boleh menghapus menggunakan tip ex, melainkan mengulang mengetik dari awal.
Begitulah… Baru pelatihan saja kami sudah digojlok sedemikian rupa. Peserta mulai menyusut satu per satu. Para pelatih sengaja, bahkan memberi kesempatan yang tidak sanggup untuk mundur. Karena kerja wartawan itu berat, jauh lebih berat dari pelatihan yang kami hadapi.
Penulis Jadul sendiri sempat berniat mundur. Tapi orang tua mengingatkan dan menguatkan, makanya tetap bertahan. Katanya, gambaran yang diberikan pelatih untuk mempersiapkan kami menghadapi kondisi terburuk. Padahal kenyataannya, belum tentu seburuk itu. Kalaupun seburuk itu, kami sudah siap, tidak kaget lagi.
Maka Penulis Jadul bertahan. Sampai akhir pelatihan selama 2 minggu. Selesai pelatihan di tempatkan di Surat Kabar Harian Metro Banjar, yang merupakan koran baru terbitan Banjarmasin Post untuk pasar masayarakat menengah ke bawah. Terbit pertama tanggl 9 bulan 9 atau September tahun 1999.

Awal-awal, kami kesulita mencari sumber berita. Tidak tahu harus pergi ke mana. Apalagi Koran Metro sama sekali belum ada wujudnya. Tapi seiring waktu, kesulitan ini teratasi karena masyarakat mulai mengenal Metro. Tapi bukan berarti tantangan dan kesulitan semakin ringan.
Benar kata Rosihan Anwar, wartawan itu pekerjaan orang gila yang tidak kenal waktu. Benar juga kata pelatih, tentang gambaran kendalan, tantangan, dan masalah yang akan kami hadapi selama di lapangan. Selama 4 setengah tahun, Penulis Jadul bertahan di dunia tanpa koma milik orang gila, setelah itu memilih mundur teratur sebagai guru honorer di sebuah SMK swasta.
Tapi bukan berarti selama 4,5 tahun jadi wartawan itu tidak enak melulu. Banyak juga sukanya. Pengalaman bertemu orang-orang hebat, belajar banyak fakta kehidupan orang lain. Bisa masuk ke bidang apapun, bergaul dengan banyak orang dengan berbagai latar belakang. Melihat dan mengalami hitam putihnya kehidupan.
Kadang, rindu juga dengan dunia tanpa koma. Rindu menjadi orang gila. Hehehe… Yang jelas, Penulis Jadul rindu bisa menulis selancar ketika masih jadi wartawan, karena diberi target 3 berita per hari. Pekerjaan penuh tekanan yang kadang menyenangkan.
Selamat Hari Pers Nasional untuk rekan-rekan jurnalis. Selamat berjuang di dunia tanpa koma yang tentunya semakin gila karena cepatnya arus informasi lewat teknologi. Tetaplah menulis fakta untuk pelajaran dan hikmah bagi para pembaca.

Banjarbaru, ditulis 10 Februari 2020

Kunjungi, tonton, like, komen, dan subribe juga di channel youtube
Follo Instagram, FB, Twitter, Wattpad, Inspirasi, dan Plukme

Saturday, February 8, 2020

Setelah Sunram, Siap Bergerak


Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Kalimantan Selatan telah selesai menyusun program kerja tahun 2020 yang dilaksanakan Selasa (04/02) sampai Kamis (06/04) lalu di Hotel G’Sign, Banjarmasin. Itu berarti, lembaga ini siap bergerak dan beraksi.
Kebetulan Penulis Jadul ditugasi untuk mengikuti kegiatan ini. Lagi-lagi tidak menyangka, karena semula tidak. Tapi menjelang hari ‘h’ ditunjuk mewakili Seksi Sistem Informasi bersama 3 rekan lainnya. Karena kebetulan hari pertama ada keperluan, terpaksa datang lebih lambat ke hotel, lebih sore sehingga melewatkan acara pembukaan.

Meski demikian, Penulis Jadul berusaha mengikuti kegiatan selanjutnya dengan seksama. Tahun sebelumnya pernah juga mengikuti kegiatan ini, tapi waktu itu masih bergabung di Sub Bagian Umum. Itulah pengalaman pertama sehingga hanya bisa sekedar membantu.
Dalam kegiatan ini setiap seksi dan sub bagian bekerjasama dan berdiskusi menyusun program kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya masing-masing yang meliputi Rencana Aksi, Jadwal Kegiatan, Term of Reference (TOR) atau Kerangka Acuan Kerja (KAK), Petunjuk Operasional Kegiatan dan Rencana Penarikan Dana.

Jadi, setelah pembukaan dan pengarahan, bekerja dan berdiskusilah semua seksi dan subbag umum. Diberikanlah waktu yang diperkirakan cukup untuk menyelesaikan tugas tersebut. Pasalnya, kegiatan yang menjadi tanggung jawab seksi dan subbag umum, tidak sama, karena disesuaikan dengan tupoksi mereka masing-masing.
Hasil kerja sama dan diskusi internal seksi dan subbag umum ini kemudian dipresentasikan. Sub Bagian Umum yang kebetulan kegiatannya paling sedikit pertama memaparkan program kerjanya.
Ada 2 kegiatan yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ditambah 1 kegiatan yang merupakan usulan tambahan. Peserta lain kemudian menanggapi dengan bertanya atau memberi masukan dan saran.
Setelah Sub Bagian Umum, Seksi Sistem Informasi (SI), Pemetaan dan Supervisi (PMS), dan Fasilitasi Peningkatan Mutu Pendidikan (FPMP) bergantian memaparkan program kerjanya. Selain Subbag dan Seksi, Tim Unit Layanan Terpadu (ULT) serta para Pengembang Teknologi Pembelajaran (PTP) bahkan Tim Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) juga ikut menjelaskan program kerjanya agar peserta yang lain mengetahui dan mendukungnya.

Begitu…
Berita resminya silakan baca di
Kunjungi juga Chanel Youtube, FB, Instagram, Twitter, Wattpad, Inspirasi, Pluk Me Penulis Jadul = Lis Maulina

Baca Mahing, Yuk!


Ada tulisan karya Penulis Jadul di Mahing. Itu, tuh… Buletin… eh, majalah terbitan LPMP Kalsel. Kan, Penulis Jadul ditugasi sebagai anggota tim penerbit, kebagian rubrik Serba-serbi yang isinya cerpen dan puisi. Nah, edisi tahun 2019 sudah siap didistribusi. Makanya, yang penasaran, silakan ke kantor LPMP Kalsel, Jalan Gotong Royong No. 85, Banjarbaru, untuk mendapatkannya.

Emang bagus…? Ya, makanya baca dan silakan nilai sendiri! Oke…?
Pasalnya, masih banyak juga karya dari penulis lain. Baik karyawan-karyawati LPMP sendiri, maupun yang di luar LPMP. Pengen tahu siapa aja? Makanya, baca! Hehehe… Promosi kok maksa…
Setelah terbit, dan siap didistribusi, ceritanya pengen ada woro-woro di laman. Tapi, masak bentuknya kayak iklan> Kan, gak lucu. Jadi, dibuatlah bergaya berita. Seperti advetorial alias iklan terselubung… Hehehe… Mantan jurnalis pasti tau jurus ini… Oleh karena itu, ditulislah berita tersebut sebagaimana yang dicuplik sedikit di bawah ini…

Sebanyak 500 eksemplar Majalah Mahing edisi terbaru siap didistribusikan. Hal ini dilaporkan Ella Agustina, M.Pd, Ketua Tim Penerbit kepada Kasubbag Umum LPMP Kalsel, Sucipto, ST, S.Pd, M.Kom, Senin (03/02).
“Kami sebagai tim penerbit Majalah Mahing dan Jurnal sudah menyelesaikan tugas kami. Sekarang, tinggal didistribusikan saja lagi,” jelasnya saat pertemuan Tim Penerbit Mahing di Ruang Kerja Kasubbag Umum.

Rencananya, Majalah Mahing dan Jurnal ini akan didistribusikan ke-13 Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota serta Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Selatan. Selain itu, juga akan dikirim ke LPMP se-Kalimantan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaa, LIPI, dan LPMP lainnya. Selain itu, juga akan dibagikan kepada para tamu yang datang ke LPMP Kalsel untuk berbagai keperluan melalui petugas penerima tamu.
Berita resminya silakan baca di
https://lpmpkalsel.kemdikbud.go.id/index.php/20-home/117-mahing-siap-didistribusi
Kunjungi juga Chanel Youtube, FB, Instagram, Twitter, Wattpad, Inspirasi, Pluk Me Penulis Jadul = Lis Maulina





Auditor Irjen Berikan Konsultasi


Sebelumnya, ketika apel pagi, kami diberitahu telah datang Tim Auditor dari Inspektorat Jenderal (Irjen) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ke LPMP Kalsel untuk memfasilitasi dan konsultasi masalah Sistem Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP). Dikatakan yang diundang anggota Satuan Pengawas Internal (SPI). Karena merasa bukan anggota, Penulis Jadul menganggapnya sebagai informasi saja.
Tapi tiba-tiba, Kepala Seksi Sistem Informasi (SI) sebagai atasan menyuruh Penulis Jadul ikut dalam pertemuan. Katanya, ada tambahan 1 orang lagi setiap seksi. Sempat tak percaya dan bertanya meyakinkan, ulun kah? (Saya kah?), jawabnya iya.
Bingung juga mulanya. Pasalnya, Penulis Jadul baru beberapa bulan menjadi anggota SI, karena sebelumnya mengurusi masalah persuratan di Sub Bagian Umum.  Nanti, bila diberi pertanyaan atau diminta penjelasan, tidak bisa menjawab karena belum begitu mengetahui permasalahan di seksi ini. Tapi, karena disuruh, ya, harus dilaksanakan.


Jadi, dalam pertemuan tersebut, Penulis Jadul hanya diam mendengarkan. Mencatat juga sedikit-sedikit, sebagai bahan tulisan untuk dimuat di laman lembaga. Yah, minimal itu yang untuk sementara ini bisa Penulis Jadul sumbangkan sehingga tidak sia-sia diikutkan dalam pertemuan, ya kan? Soalnya, dikasih konsumsi eh…. Hehehe…

Untuk hasil beritanya, bisa dibaca di laman LPMP, ya…! Ini tautannya
Soalnya, kalo ditulis di sini juga, nanti ga buka laman resminya, pengunjung tidak tambah banyak. Hehehe….
Kunjungi juga Chanel Youtube, FB, Instagram, Twitter, Wattpad, Inspirasi, Pluk Me Penulis Jadul = Lis Maulina


Friday, February 7, 2020

Hotel Puri Tempo Doeloe Bagai Kembali ke Masa Lalu


Pernahkah kalian berkhayal kembali ke masa lalu? Penulis Jadul sering. Bahkan menjadikan khayalan ini sebagai bahan penulisan epik berlatarbelakang sejarah. Tapi baru sekali Penulis Jadul merasa benar-benar kembali ke masa lalu. Yaitu ketika menginap di Hotel Puri Tempoe Doeloe, Sanur, Bali.




Begini, ceritanya. Penulis Jadul berangkat ke Bali dengan rombongan kantor menjelang tahun baru lalu, 29-31 Desember 2019. Nginapnya di Hotel Puri Tempoe Doeloe di daerah Sanur. Teman pesan lewat aplikasi. Katanya, hampir semua hotel di Bali penuh karena menjelang tahun baru. Itupun ada 3 teman lagi yang harus menginap di hotel lain, karena kamar  di hotel ini juga penuh.
Karena penerbangan kami dari Banjarmasin pukul 19.00 delay sekitar 3 jam, makanya kami sampai di Bandara Ngurah Rai sudah lumayan malam. Memang sih diberi kotak makan malam untuk mengganjal perut, tapi tetap tidak bisa menggantikan kekecewaan karena delay. Untungnya, supir sudah menunggu kedatangan kami, sehingga kami bisa langsung meninggalkan bandara.
Sebenarnya sih, kami sudah cukup lelah sehingga ingin secepatnya beristirahat di hotel. Tapi perut terasa lapar. Nasi kotak yang dibagikan maskapai tidak cukup untuk mengobati rasa lapar kami. Makanya, kami memutuskan untuk makan dulu. Atas rekomendasi Entis, supir yang mengantar, kami singgah ke sebuah rumah makan yang menyediakan menu khas Bali, Ayam Betutu. Rasanya enak. Apalagi kami juga lapar, maka rasanya jadi semakin enak.
Setelah kenyang, barulah menuju hotel yang sudah dipesan di kawasan Sanur. Karena sudah malam, kondisi hotel remang-remang dan sepi. Kami lihat selintas, arsitekturnya sesuai dengan namanya, tempo dulu. Selain hiasan patung dan taman, ada juga becak yang menghias bagian luar ruangan.
Kami diantar menuju kamar yang sudah dipesan. Ternyata bentuknya seperti cottage. Masing-masing kamar terdiri dari bangunan sendiri yang terpisah. Lengkap dengan halaman yang dibatasi pagar. Begitu yang terlihat, meskipun tidak begitu jelas karena malam.
Bangunan kamarnya benar-benar seperti rumah jaman dulu. Sebagian besar terbuat dari kayu dengan arsitektur penuh ukiran. Bukan hanya bangunannya, perabotan di dalamnya juga. Seperangkat meja kursi, lemari pakaian, dan lain-lain, semua terbuat dari kayu dengan gaya jaman dulu. Ada TV tapi lebih mirip monitor komputer. Kemudian dinding kamar juga dipenuhi hiasan foto hitam putih layaknya gambar jaman dulu.
Yang paling membuat kami surprise, tempat tidurnya juga bergaya tempo doeloe, lengkap dengan kelambu. Jadi, memasuki kamar, kita seperti menonton film Siti Nurbaya, Salah Asuhan, atau kalau yang parno mungkin membayangkan film horor Almarhumah Suzanna. Bahkan Penulis Jadul sendiri sempat deg-degan ketika membuka lemari, membuka gentong di teras depan dan menengok kolong ranjang. Takut tiba-tiba ada yang muncul mengejutkan sebagaimana di film-film horor. Hehehe… Tapi jangan khawatir, semua itu tidak terjadi.
Kondisi kamar mandi mungkin sedikit lebih modern. Karena dilengkapi wastapel, toilet duduk, dan bak rendam serta shower.  Tapi tetap saja ada kombinasi ala jaman dulu, yakni ornamen dari kayu. Sementara pendinginnya digunakan kipas angin.
Meski merasa aneh, setelah mandi dan shalat, tetap saja Penulis Jadul tidur pulas. Beda dengan teman sekamar yang katanya susah tidur. Bangun pagi, baru bisa benar-benar mengamati kamar dari luar. Rasanya, seperti menginap di rumah nenek di kampung. Hanya saja, keluar pagar kamar, kami bisa menemukan kolam renang. Kalo di rumah nenek kan adanya sungai, bukan kolam renang. Hehehe...
Sarapan pagi kami nikmati di ruang makan yang bentuknya seperti kafe kecil. Suasananya, sama tempo dulu, Baik perabot dan hiasannya. Masih dimonopoli foto-foto hitam putih jaman dulu. Kami memesan nasi goreng yang ternyata satu paket dengan buah, kopi atau teh, dan roti. Bila kawan yang lain merasa tidak sesuai dengan selera mereka, Penulis Jadul makan sampai habis. Entah suka atau lapar. Hehehe…
Mungkin karena Penulis Jadul, makanya tinggal dengan suasana tempo dulu merasa asyik-asyik saja. Siapa tahu bisa jadi inspirasi tulisan fiksi berlatar belakang sejarah tempo dulu. Bagaimana menurut kalian?
Banjarbaru, ditulis 4 Februari 2020

Kunjungi, tonton, like, komen, dan subribe juga di channel youtube
Follo Instagram, FB, Twitter, Wattpad, Inspirasi, dan Plukme

Monday, February 3, 2020

18 SK Tugas Tambahan Dibagikan


BANJARBARU - Bertekad untuk berubah menjadi lebih baik dan maju di tahun 2020 ini, sebanyak 18 Surat Keputusan (SK) internal Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Kalimantan Selatan dibagikan kepada  karyawan-karyawati yang diberi amanahdan kepercayaan. Pasalnya, mereka yang dilimpahi SK ini berarti mengemban tugas tambahan di luar tugas pokok yang sudah diuraikan dalam Sasaran Kinerja Pegawai (SKP).



Tekad ini ditegaskan Kepala LPMP Kalsel, Drs. Nuryanto, M.Pd, dalam Rapat Pembagian SK Internal Pegawai, Kamis (30/01) di Ruang Kuliah Umum, yang dihadiri seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) dan beberapa PTT.

“Terutama ada 5 yang harus berubah, yakni : WBK. ULT, TI, majalah, dan jurnal, karena berkaitan dengan hubungan dan pelayanan kita dengan pihak luar,” ungkapnya.
Dijelaskan Kasubbag Umum, Sucipto, ST, S.Pd, M.Kom, sebelum diterbitkannya SK ini sudah melalui pembicaraan dan diskusi berbagai pihak terlebih dahulu. Jadi yang menerima SK merupakan penerima mandat, amanah dan kepercayaan dari atasan yang wajib dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
“Tapi bukan berarti yang tidak menerima SK tidak diberi kepercayaan. Karena sebenarnya, selain SK ini, masih akan ada SK lain menyusul karena masih dalam proses,” katanya.

Adapun 18 SK yang dibagikan meliputi SK Penunjukan Pengadaan Barang dan Jasa, Pejabat Pengadaan Barang dan Jasa, Pengelola Pelaporan Keuangan Sistem Akuntansi Instansi (SAI), Tim Penyusun Rencana Kerja Anggaran Kementerian dan Lembaga (RKAKL) Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA), Operator Sistem Perencanaan Pengadaan Barang dan Jasa (SIRENBAJA), Unit Layanan Pengadaan (ULP), Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan Pengadaan (PPHP), Tim Pengurus/Penyimpan Barang Milik Negara (BMN), Petugas Admin Satuan Kerja Aplikasi Sistem Informasi Pelaporan Elektronik (SIMPEL), Tim Penyunting Jurnal, Penerbit Majalah, Penyusun Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP), Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) Pembangunan, Zone Integritas Wilayah Bebas dari Korupsi (ZI-WBK), Pengadministrais Tindak Lanjut Hasil Temuan Pemeriksaan Ispektorat Jenderal (Irjen), Pengelola Teknik Informasi, Unit Layanan Terpadu (ULT) dan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI).  lsm
Btw : Seperti tahun lalu, Penulis Jadul juga kebagian 1 SK tambahan sebagai Tim Penerbit Majalah atau Buletin Mahing.
Kunjungi juga FB, Instagram, Twitter, Wattpad, Inspirasi, Pluk Me Penulis Jadul = Lis Maulina

Kepsek Banjarbaru Antusias Daftar Sekolah Penggerak

Para kepala sekolah di Banjarbaru antusias mendaftar Program Sekolah Penggerak (PSP). Antusiasme ini terlihat di Aula Pangeran Antasari, Lem...